Sejarah TMII
Adalah Siti Hartinah Soeharto—yang akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto—mempunyai gagasan membangun kawasan wisata Taman Mini “Indonesia Indah”. Prakarsa itu diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental-spiritual.
Selaku ketua Yayasan Harapan Kita (YHK), yang berdiri pada tanggal 28 Agustus 1968, Ibu Tien Soeharto menyampaikan gagasan pembangunan Miniatur Indonesia pada rapat pengurus YHK tanggal 13 Maret 1970 di Jl. Cendana No. 8, Jakarta. Bentuk dan sifat isian proyek berupa bangunan utama bercorak rumah-rumah adat daerah yang dilengkapi dengan pergelaran kesenian, kekayaan flora-fauna, dan unsur budaya lain dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Gagasan itu dilandasi, antara lain, semangat untuk membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa serta untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia.
Tanggal 30 Januari 1971, pada penutupan Rapat Kerja Gubernur, Bupati, dan Walikota seluruh Indonesia di Istana Negara yang juga dihadiri oleh Presiden, Ibu Tien Soeharto dengan didampingi Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud untuk pertama kalinya memaparkan maksud dan tujuan pembangunan Miniatur Indonesia “Indonesia Indah” di depan umum. Berbagai saran, tanggapan, dan pemikiran dari berbagai kelompok masyarakat pun muncul, yang sebagian besar mendukung pembangunan proyek tersebut.
Pada tanggal 11 Agustus 1971, dengan surat YHK, Ibu Tien Soeharto menugaskan Nusa Consultans untuk membuat rencana induk dan studi kelayakan. Tugas itu selesai dalam waktu 3,5 bulan.
Lokasi pembangunan proyek awalnya berada di daerah Cempaka Putih, di atas tanah seluas + 14 hektar. Namun Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menyarankan lokasi di daerah sekitar Pondok Gede, Kecamatan Pasar Rebo, dengan luas tanah ± 100 hektar. Selain lebih luas, lokasi itu juga mengikuti perkembangan kota Jakarta di kemudian hari. Ibu Tien Soeharto menerima saran tersebut, karena dengan lahan yang lebih luas memungkinkan proyek miniatur Indonesia menampilkan rumah-rumah adat daerah dan bangunan-bangunan lain dalam ukuran yang sebenarnya.
Pada tanggal 30 Juni 1972 pembangunan dimulai tahap demi tahap secara bersinambung. Rancangan bangunan utama berupa peta relief Miniatur Indonesia berikut penyediaan airnya, Tugu Api Pancasila, bangunan Joglo, dan Gedung Pengelolaan disiapkan oleh Nusa Consultants berikut pembuatan jalan dan penyediaan kaveling tiap-tiap bangunan. Rancangan bangunan lain, seperti bangunan khas tiap daerah, dikerjakan oleh berbagai biro arsitek, sedang Nusa Consultants hanya membantu menjaga keserasian secara keseluruhan.
Berkat kegotong-royongan semua potensi nasional: masyarakat di sekitar lokasi, pemerintah pusat dan daerah, swasta, dan berbagai unsur masyarakat lainnya, dalam kurun waktu tiga tahun pembangunan TMII tahap pertama dinyatakan selesai.
Pada tanggal 20 April 1975 Taman Mini “Indonesia Indah” diresmikan pembukaannya oleh Presiden Soeharto.
Gagasan dan Sumber IIham
Tiada ketenaran tanpa awal gagasan dan karya yang mewujudkannya. Ketenaran Taman Mini "Indonesia Indah" di seluruh Nusantara dan di berbagai bagian dunia, tidak dapat dilepaskan dari pangkal tolaknya yang berupa gagasan yang terdengarnya sederhana tetapi mengandung nilai yang sangat tinggi.
Gagasan ini berupa keinginan atau cita-cita untuk membangkitkan rasa bangga dan tebalnya rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa, Indonesia. Gagasan ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Cita-cita ini diutarakan sebagai gagasan untuk mendirikan suatu tempat rekreasi yang mampu menggambarlan kebesaran dan keindahan Indonesia dalam bentuk miniatur. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no.8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970.
Sebagai pemrakarsa, Ibu Tien Soeharto (Ibu Negara) telah melihat jauh ke depan akan pentingnya menciptakan suatu bangunan miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya, kekayaan alam, kebudayaan dan kekayaan lainnya. Bertekad cita-cita ini, dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.
Prakarsa Ibu Negara ini bersumber pada kenyataan bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan di berbagai segi dan sumber. Pulaunya yang berjumlah belasan ribu. kelompok etnisnya yang memiliki ciri-ciri khas masing-masing, dalam bahasa, adat istiadat, perilaku tutur kata dan sebagainya, serta sumber daya alamnya yang sangat kaya ini tidak terlepas dari pengamatan Ibu Negara untuk melahirkan gagasan yang mulia dan sangat bermanfaat bila terwujud.
Filsafat dan Asas Pendirian
Tentulah ada asas-asas filsafat yang dijadikan landasan pendirian proyek miniatur ini. Kekokohan hasil proyek ini terbentuk berkat filsafat yang berpangkal pada amanat-amanat Presiden Republik Indonesia yang pada intinya ialah keseimbangan usaha pembangunan fisik dan ekonomi dengan pembangunan mental spiritual. Filsafat inilah yang menjadi batu pijakan pembangunan dan pengembangan Proyek Miniatur "Indonesia Indah". Filsafat ini dijadikan pilihan landasan karena Ibu Negara sadar dan melihat bahwa pada awal pembangunan yang dilaksanakan pada akhir tahun 1960-an belum mendapatkan perhatian semestinya. Karena kesadaran dan perhatian beliau inilah, beliau berprakarsa pelaksanaan pembangunan mental spiritual.
Secara lebih rinci ada lima aspek dan prospek yang dijadikan baik pijakan pembangunannya maupun pandangan dalam pengembangannya. Kelimanya ini ialah spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi, ekonomi, dan kesejahteraan. Pegangan teguh pada aspek dan prospek ini dapat dirasakan dan dilihat pada pengembangan yang telah berlangsung selama ini.
Aspek dan prospek spiritual serta pendidikan dan kebudayaan tidak terlepas dari pandangan Presiden Soeharto. Mengenai aspek dan prospek spiritual beliau menyatakan bahwa setiap usaha pembangunan ekonomi tidak mungkin dilakukan tanpa pembangunan mental, spiritual, rohaniah dan sosial . Mengenai pendidikan dan kebudayaan beliau mengungkapkan bahwa putra-putri harus menyiapkan diri sejak sekarang. melatih diri dan mengasah otak belajar berorganisasi dan mulai membaktikan diri kepada masyarakat, mencintai alam dan bangsanya sendiri. bangga kepada kebudayaannyan sendiri dan mau belajar hal-hal yang baik dari luar tanpa kehilangan kepribadian nasionalnya sendiri, berusaha sendiri dan selalu ingin mengetahui hal-hal baru agar dapat maju, mencintai kerja dan berusaha mencapai prestasi yang tinggi .
Mengenai aspek dan prospek teknologi, kata-kata Neil Armstrong, angkasawan Amerika, manusia pertama yang menjejakkan kaki di bulan, a little step of a man, a giant step of mankind yang artinya langkah kecil manusia tetapi berupa loncatan raksasa kemanusiaan, merupakan dambaan dalam membangun dan mengembangkan Proyek Miniatur "Indonesia Indah" ini. Hanya dengan teknologi yang ditulang-punggungi ilmu, manusia dapat melangkah maju dalam mewujudkan keinginan peningkatan ke arah ekonomi dan kesejahteraannya.
Selanjutnya mengenai aspek dan prospek ekonomi, kata-kata Presiden Soeharto menjadi pegangannya. Dikatakan oleh beliau bahwa, "Pembangunan ekonomi berarti pengolahan kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil melalui pananaman modal, penggunaan teknologi, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen" . Aspek dan prospek ini tidak terlepas dari aspek dan prospek berikutnya, yaitu kesejahteraan. Oleh Presiden Soeharto, dikatakan bahwa "Cita-cita kita adalah suatu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, kita ingin kehidupan kita lebih baik, makin maju, bertambah sejahtera dan adil" .
Kelima aspek dan prospek tersebut saling berkait. Kaitan inidalam pembangunan dan pengembangan Proyek Miniatur "Indonesia Indah terlihat nyata bila kita melihat taman miniatur ini secara keseluruhannya. Secara keseluruhan di sini melibatkan penglihatan kita terhadap wujud fisik, yang berupa bangunan, yang mengandung aspek dan prospek spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi, dan sarana dalam meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan, dan wujud program pergelaran yang mengandung aspek dan prospek spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi serta ekonomi dan kesejahteraan. Jelaslah bahwa baik dari pandangan fisik maupun langkah operasional. Proyek Miniatur ini erat berpegang pada aspek dan prospek pembangunannya.
Dengan filsafat ini sebagai landasan, ada sasaran yang ingin dijangkau oleh pendiri taman miniatur, yaitu meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengertian kepada bangsa-bangsa lain tentang Indonesia yang sebenarnya. Ke dalam sendiri, jangkauan pelaksanaan proyek ini ialah terjadinya proses pendidikan dan peningkatan pengetahuan bangsa sendiri mengenai tanah airnya, sehingga terpupuklah rasa cinta kepada tanah airnya. Inilah sebetulnya misi didirikannya taman miniatur ini.
Arti TMII
Arti Taman Mini “Indonesia Indah” adalah satu proyek untuk mencitrakan Indonesia yang lengkap dengan segala isinya dalam bentuk mini, berupa sebuah taman di atas sebidang tanah yang menggambarkan Indonesia yang besar ke dalam penampilan yang kecil
Bangunan pokok berupa danau buatan dengan pulau-pulau yang menggambarkan wilayah Indonesia. Kepulauan buatan tersebut merupakan bagian terpenting dari proyek ini dan disebut Miniatur Arsipel Indonesia. Pulau-pulau dibangun secara geografis di atas laut buatan sesuai dengan skala asli, dalam arti tinggi rendah daratan, hutan, keadaan gunung-gunung, dan tumbuh-tumbuhannya terlihat seperti perwujudan sesungguhnya.
Danau kepulauan ini, berikut bangunan-bangunan khas daerah di sekitarnya, secara keseluruhan dinamakan Taman Mini “Indonesia Indah”.
Visi, Misi dan Tujuan
Visi proyek adalah menjadikan Taman Mini “Indonesia Indah” sebagai kawasan wisata budaya yang terkemuka.
Dengan visi tersebut, TMII menetapkan misinya sebagai wahana pelestarian, pengenalan, dan pengembangan budaya bangsa. Oleh karena itu, sasaran pembangunannya tidak menitikberatkan pada keuntungan finansial melainkan pengembangkan kebudayaan nasional.
Maksud dan tujuan pembangunan Taman Mini “Indonesia Indah”:
Membangun dan mempertebal rasa cinta bangsa dan tanah air.
Memupuk serta membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Menghargai serta menjunjung tinggi kebudayaan nasional Indonesia dengan jalan menggali dan menghidupkan kembali kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang.
Memperkenalkan kebudayaan, kekayaan alam, dan warisan bangsa kepada sesama anak bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia.
Memanfaatkan untuk menarik wisatawan, dengan demikian meningkatkan kegiatan pariwisata, sarana promosi bagi tiap-tiap daerah di seluruh tanah air, dan menghidupkan kerajinan rakyat di seluruh daerah, menampung dan mengatur pemasarannya.
Ikut aktif membantu pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan dengan mempersembahkan suatu tempat rekreasi yang bersifat pendidikan kepada masyarakat Indonesia.
Uraian mengenal Logo dan Maskot
Dalam rangka meningkatkan citra positif dan menambah daya tarik masyarakat, pada 26 September 2007 diluncurkan logo baru “tmii” sebagai brand name.
Logo menggunakan empat warna dasar, yakni merah, biru, kuning, dan hijau, dengan pencitraan grafis huruf dan warna. Merah melambangkan semangat, biru mencitrakan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, kuning lambang kekayaan dan keragaman budaya, dan hijau mengacu pada kekayaan alam.
Motif logo menggunakan huruf lengkung untuk menggambarkan kedinamisan, keragaman budaya, dan kekayaan alam Indonesia. Pewarnaan dari merah ”t” menuju ke kuning “i” mengandung filosofi pergerakan terbit sampai terbenamnya matahari, warna biru adalah waktu saat beraktivitas dari kedinamisan, dan warna hijau adalah pencapaian dari sebuah kemakmuran. Grafis bulatan yang berputar tiada henti di atas kedua huruf “i” melambangkan kesatuan makna dari kata “Indonesia” dan kata “Indah”, serta melambangkan TMII sebagai tujuan terbaik untuk melihat lebih dekat keindahan dan kekayaan budaya dan alam Indonesia.
Maskot berupa tokoh epos Ramayana, yakni Anjani Putra—disingkat NITRA—nama lain Sang Hanoman. Tokoh NITRA menjadi icon TMII dan berperan sebagai sarana pengenal yang mempunyai makna informatif agar mudah diingat dan lekat di hati.
Penggunaan maskot NITRA diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto bertepatan dengan ulang tahun ke-16 TMII pada 20 April 1991.
Pemilihan tokoh NITRA didasarkan atas pertimbangan:
NITRA berwujud kera putih yang perkasa, mempunyai kepribadian menonjol, seperti berjuang membela dan menegakkan kebenaran tanpa pamrih, mahir berdiplomasi sehingga dipercaya sebagai duta.
NITRA memiliki berbagai kesaktian, sehingga mampu membasmi angkara murka dan membela kebenaran.
NITRA merupakan kesayangan dewa yang dikaruniai usia sangat panjang sebagai pembina generasi selanjutnya.
NITRA mempunyai watak yang dapat diteladani dan dapat menjadi sumber inspirasi yang menyatu dengan misi TMII sebagai wahana pelestarian, pengenalan dan pengembangan budaya, duta seni, serta mewariskan segala sesuatunya untuk generasi yang akan datang.
NITRA mencerminkan budi luhur, diharapkan menjadi suri tauladan bagi generasi muda dan menjadi pilihan idola yang bersumber dari nilai budayanya sendiri.
Visualisasi NITRA mengarah pada bentuk fisik yang disesuaikan agar menarik dan disenangi anak-anak, remaja, dan dewasa: ramah dan lucu tetapi mempesona.
Sebagai maskot, NITRA dapat berbentuk dua dimensi dan tiga dimensi, antara lain berwujud boneka, logo, ataupun produk cetak dan cenderamata sesuai kebutuhan.
Pages
Jumlah Pengunjung
About Me
- Jakarta Punya
- Jakarta Punya Souvenir,the city`s souvenir. Tempat di mana kamu bisa mendapatkan souvenir-souvenir cantik, unik dan menarik khas Jakarta. Dibawah asuhan dari KADIN JAYA dan UKM di beberapa daerah.
Jakarta Jakarta
Mystery of Batavia
Tokoh Jakarta
Cagar Budaya Jakarta
Makanan Khas Jakarta
Transportasi Jakarta
Cerita-Cerita Jakarta
Jakarta Punya Produk
Pesannyee
Jl.Wijaya II No.119 - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Soto Betawi
Resep Masakan Soto Betawi – Seperti daerah-daerah lain di Nusantara, Betawi juga punya makanan khasnya sendiri. Ada banyak makanan khas Betawi, sekarang kita coba resep masakan soto Betawi sebagai berikut :
Bahan :
500g jerohan (usus, paru, dan babat)
500g daging sapi skengkel (paha atas)
2 buah kentang, dikupas, dibelah 4 bagian, dan digoreng
2 batang serai, dimemarkan
3 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1½ liter santan sedang kentalnya
2 sdm air jeruk limo
2 sdm bawang goreng
1 batang daun bawang diiris halus
1 buah tomat dipotong 8 bagian
1 sdm daun sledri dirajang halus
1 batang kayu manis
1 sdt garam
1 sdm gula
minyak untuk menumis
emping melinjo goreng
Bumbu yang dihaluskan:
3 siung bawang putih
7 buah bawang merah
3 butir kemiri
2 sdt jintan
2 sdt lada
3 sdt ketumbar
Cara membuat :
* Bersihkan jerohan, kemudian rebus hingga ¾ empuk. Angkat dan sisihkan.
* Rebus santan hingga mendidih dengan api kecil. Masukkan jeroan dan daging. Rebus kembali hingga keduanya matang.
* Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang. Masukkan serai, daun salam, daun jeruk, dan kayu manis. Setelah bumbu benar-benar harum dan matang, masukkan jeroan, daging, garam, dan gula ke dalam rebusan.
* Angkat jeroan dan daging. Potong-potong sesuai selera, lalu goreng. Sisihkan.
* Cara menyajikan: Letakkan potongan kentang goreng, potongan jeroan dan daging, daun bawang, daun sledri, dan air jeruk limau di dasar mangkok. Siram dengan kuah soto. Terakhir, taburi dengan bawang goreng. Hidangkan dengan emping melinjo.
Bahan :
500g jerohan (usus, paru, dan babat)
500g daging sapi skengkel (paha atas)
2 buah kentang, dikupas, dibelah 4 bagian, dan digoreng
2 batang serai, dimemarkan
3 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1½ liter santan sedang kentalnya
2 sdm air jeruk limo
2 sdm bawang goreng
1 batang daun bawang diiris halus
1 buah tomat dipotong 8 bagian
1 sdm daun sledri dirajang halus
1 batang kayu manis
1 sdt garam
1 sdm gula
minyak untuk menumis
emping melinjo goreng
Bumbu yang dihaluskan:
3 siung bawang putih
7 buah bawang merah
3 butir kemiri
2 sdt jintan
2 sdt lada
3 sdt ketumbar
Cara membuat :
* Bersihkan jerohan, kemudian rebus hingga ¾ empuk. Angkat dan sisihkan.
* Rebus santan hingga mendidih dengan api kecil. Masukkan jeroan dan daging. Rebus kembali hingga keduanya matang.
* Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang. Masukkan serai, daun salam, daun jeruk, dan kayu manis. Setelah bumbu benar-benar harum dan matang, masukkan jeroan, daging, garam, dan gula ke dalam rebusan.
* Angkat jeroan dan daging. Potong-potong sesuai selera, lalu goreng. Sisihkan.
* Cara menyajikan: Letakkan potongan kentang goreng, potongan jeroan dan daging, daun bawang, daun sledri, dan air jeruk limau di dasar mangkok. Siram dengan kuah soto. Terakhir, taburi dengan bawang goreng. Hidangkan dengan emping melinjo.
Museum Nasional Republik Indonesia
Sejarah Museum Nasional
Sejarah Museum Nasional dimulai pada tanggal 24 April 1778 dengan dibentuknya sebuah wadah perkumpulan intelektual dan ilmuwan Belanda yang berada di Hindia Belanda, tepatnya di kota Batavia, yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan (-warga) Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan). Lembaga ini memiliki tujuan untuk mempromosikan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah, arkeologi, etnografi, dan mempublikasikan berbagai penemuan-penemuan di bidang tersebut.
Salah seorang pendiri, J.C.M. Radermacher menyumbangkan bangunan, koleksi buku-buku dan benda-benda budaya yang merupakan awal berharga untuk sebuah museum dan perpustakaan bagi masyarakat. Karena semakin meningkatnya jumlah koleksi, Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke 19 membangun tempat baru di Jalan Majapahit no. 3, di pavilyun gedung Harmonie dan menamakannya Literary Society. Kemudian pada periode berikutnya tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru yang tidak hanya berfungsi sebagai kantor tetapi juga sebagai tempat perawatan dan memamerkan koleksi-koleksi yang ada.
Museum ini dibuka secara resmi pada tahun 1868. Museum ini dikenal sebagai Gedung Gajah atau Gedung Arca, karena terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu di halaman depan yang merupakan pemberian dari Raja Siam (Thailand) pada bulan Maret 1871. Patung Gajah yang sama juga diberikan kepada negara Singapura dan hingga kini masih berada di Raffles Museum Singapura. Sedangkan disebut sebagai gedung arca karena di sini terdapat berbagai jenis dan bentuk patung/ arca dari berbagai babakan periode sejarah nusantara.
Geschenk van Zijne Majesteit SOMDETCH PHRA PARAMINDR MAHA CHULALONKORN, Eersten Koning van Siam, aangeboden aan de stad..(- Batavia) ter herinnering aan zijn bezoek in de maand Maart 1871
(Hadiah dari yang mulia Somdetch Phra Paramarindr Maha CHULALONKORN, Raja Siam (Thailand) yang pertama, diberikan kepada kota.. >Batavia [terhapus, tetapi kemungkinan besar mengacu ke kota Batavia] sebagai kenang-kenangan atas kunjungannya pada bulan Maret 1871)
Museum Nasional berfungsi tidak hanya sebagai lembaga studi dan penelitian warisan budaya bangsa tapi juga berfungsi sebagai pusat informasi yang bersifat edukatif, kultural dan rekreatif. Sejarah panjang Museum Nasional tersebut menjadikan museum ini museum terbesar dan tertua di Indonesia.
Koleksi Museum Nasional
Museum Nasional memiliki banyak koleksi benda-benda budaya dari seluruh Nusantara. Di antaranya termasuk koleksi arca-arca, prasasti yang berasal dari kerajaan-kerajaan di Nusantara dan benda-benda seni budaya serta beraneka ragam benda-benda yang digunakan pada upacara tradisi dan ritual dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.
Hingga saat ini koleksi yang dikelola Museum Nasional berjumlah lebih dari 141.000. benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Koleksi tersebut dapat disaksikan dalam 9 ruangan berbeda, yaitu: Ruang Etnografi, Ruang Perunggu, Pra-Sejarah, Ruang Keramik, Ruang Tekstil, Ruang Numismatik & Heraldik, Ruang Relik Sejarah, Ruang Patung Batu, dan Ruang Khazanah.
Dahulu Museum Nasional juga memiliki perpustakaan yang menyimpan koleksi berupa naskah-naskah manuskrip kuno, namun setelah gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27 Jakarta Pusat didirikan, naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Nasional kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan juga pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Sejak tahun 1822 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan agar semua benda-benda sejarah, seni, budaya atau sejenisnya dari seluruh kepulauan nusantara yang didapatkan melalui ekspedisi ilmiah, ekspedisi militer, atau dikumpulkan oleh pegawai pemerintah, misionaris dan penyebar agama diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Selanjutnya perkumpulan Batavia akan mengajukan pembagian antara Batavia dan Nederland (Kerajaan Belanda). Sebagian dari koleksi ditempatkan di Museum Bataviaasch Genootschap dan sebagian lainnya ditempatkan di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia nama Museum van het Bataviaasch Genootschap menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian setelah Perang Dunia ke-2, pihak pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda secara teratur mengadakan pembicaraan bilateral mengenai pengembalian hak warisan budaya. Diskusi ini pada akhirnya menghasilkan persetujuan Wassenaar yang memutuskan pemilik sah atas warisan budaya tersebut. Sebagai kelanjutan dari persetujuan ini, pada tahun 1978 sebuah hasil ukiran batu maha karya yaitu Arca Prajnaparamita bersama dengan sejumlah besar harta karun Lombok dikembalikan kepada Indonesia. Kini benda-benda tersebut dapat disaksikan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam Ruang Perunggu dalam lemari kaca tersendiri, sementara arca Hindu tertua di Nusantara yaitu arca Wisnu Cibuaya berasal dari sekitar abad ke 4 Masehi berada di ruang arca batu terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.
Pengunjung Museum nasional dapat memilih koleksi mana yang akan dilihat di sini, sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka. Bila ingin melihat koleksi benda-benda yang terbuat dari emas, logam mulia dan batu-batuan berharga yang berasal dari kerajaan-kerajaan di nusantara, maka saat masuk museum belok ke kiri dan naik tangga menuju Ruang Khazanah emas atau Treasure Room dan berjalan searah jarum jam. Sementara apabila ingin melihat koleksi etnografi maka belok ke kanan dan berjalan berlawanan arah jarum jam. Koleksi arca atau patung ada di bagian tengah dan di halaman tengah museum.
Salah satu ruangan yang menarik lainnya di Museum Nasional adalah Ruang Thailand atau Thai Room. Ruang ini menyajikan berbagai benda-benda sejarah dari Thailand. Salah satunya adalah patung dan topeng Thotsakan Vishnukarman yang berwarna hijau. Topeng ini tampak eksotis dan menarik, warnanya yang hijau terlihat unik dan ekspresif seakan-akan hidup.
Ruang Khazanah Emas> The Treasure Rooms
Ruang Khazanah emas dibagi dua bagian, Ruang Arkeologi dan Ruang Etnografi. Di ruangan ini terdapat lebih dari 200 item benda-benda koleksi yang terbuat dari emas dan perak, benda-benda tersebut lebih banyak yang ditemukan secara tidak disengaja dibandingkan yang ditemukan melalui penggalian arkeologis.
Pada tahun 1990 seorang petani di Wonoboyo Klaten Jawa Tengah menemukan harta karun terpendam yang berasal dari periode Jawa Klasik sekitar abad ke-5 hingga ke-15 masehi. Harta karun tersebut kebanyakan berupa benda-benda perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, secara keseluruhan beratnya lebih dari 35 kilogram. Harta karun Wonoboyo kemungkinan terpendam lava dari letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar awal abad ke-10. Benda-benda ini merupakan penemuan terbesar abad ini di Indonesia dan sekarang dapat disaksikan di ruang Khazanah Arkeologi.
Koleksi di ruang Khazanah Etnografi terdiri dari benda-benda yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Kebanyakan benda-benda tersebut terbuat dari emas 14-24 karat dan banyak di antaranya yang dihiasi dengan batu-batu mulia.Selama berabad-abad Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan emas dan logam mulia lainnya. Benda-benda budaya dibuat dengan beberapa teknik pembuatan yang sesuai dengan babakan periode kebudayaan yang ada.
Koleksi yang ada di Museum Nasional merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan benda-benda di ruang Khazanah ini merupakan bukti sejarah atas peradaban budaya yang tinggi dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Indonesia dan hal ini tidak hanya sekedar dinilai dari bahan baku pembuatan benda tersebut namun nilai sejarah yang dikandungnya yang membuatnya sangat tidak ternilai. Tidak mengherankan museum ini telah mengalami beberapa kali kasus pencurian. Pada tahun 1960-an, terjadi kasus pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok Kusni Kasdut. Pada tahun 1979 terjadi pula kasus pencurian koleksi uang logam. Pada tahun 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Terakhir pada tahun 1996 kasus pencurian lukisan yang akhirnya bisa ditemukan kembali di Singapura.
Gedung Baru Museum Nasional
Museum Nasional sekarang ini terdiri dari dua unit, yaitu Gedung Museum Nasional (Unit A) serta bangunan baru, Gedung Arca (Unit B) yang mulai dibangun sejak tahun 1996, dan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 20 Juni 2007. Konsep penataan pameran di Gedung Arca diberi tema “Keanekaragaman Budaya Dalam Kesatuan”. Tema yang mencerminkan keanekaragaman kebudayaan bangsa sebagai modal bangsa. Konsep penataan tiap lantai di Gedung Arca yang terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 bertemakan Manusia dan Lingkungan, Lantai 2 IPTEK, Lantai 3 Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman dan Lantai 4 Khasanah Emas dan Keramik.
Jam Buka Museum:
Museum Nasional buka mulai pukul 08.30 hingga 14.30 pada hari Selasa, Rabu, Kamis dan Minggu. Pukul 08.30 hingga 11.30 pada hari Jumat dan pukul 08.30 hingga 13.30 pada hari Sabtu. Museum Nasional tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.
Tiket Masuk
Dewasa Rp. 750; Anak di bawah umur 17 tahun dan pelajar Rp. 250.
Asing/ Mancanegara Rp. 10.000.
Lokasi & Tempat Parkir:
Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, di seberang sisi sebelah barat Monumen Nasional dan sesudah Kantor Departemen Pertahanan RI ke arah utara/ Harmoni . Halaman depan dapat menampung mobil dan bis, dan selain itu terdapat tempat parkir yang luas di basement gedung Arca (gedung B)
Tata Tertib Museum
Pengunjung Museum Nasional diminta untuk tidak merokok, makan, dan minum di seluruh area museum dan dilarang untuk menyentuh benda-benda koleksi yang ada di museum.
Sejarah Museum Nasional dimulai pada tanggal 24 April 1778 dengan dibentuknya sebuah wadah perkumpulan intelektual dan ilmuwan Belanda yang berada di Hindia Belanda, tepatnya di kota Batavia, yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan (-warga) Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan). Lembaga ini memiliki tujuan untuk mempromosikan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah, arkeologi, etnografi, dan mempublikasikan berbagai penemuan-penemuan di bidang tersebut.
Salah seorang pendiri, J.C.M. Radermacher menyumbangkan bangunan, koleksi buku-buku dan benda-benda budaya yang merupakan awal berharga untuk sebuah museum dan perpustakaan bagi masyarakat. Karena semakin meningkatnya jumlah koleksi, Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke 19 membangun tempat baru di Jalan Majapahit no. 3, di pavilyun gedung Harmonie dan menamakannya Literary Society. Kemudian pada periode berikutnya tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru yang tidak hanya berfungsi sebagai kantor tetapi juga sebagai tempat perawatan dan memamerkan koleksi-koleksi yang ada.
Museum ini dibuka secara resmi pada tahun 1868. Museum ini dikenal sebagai Gedung Gajah atau Gedung Arca, karena terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu di halaman depan yang merupakan pemberian dari Raja Siam (Thailand) pada bulan Maret 1871. Patung Gajah yang sama juga diberikan kepada negara Singapura dan hingga kini masih berada di Raffles Museum Singapura. Sedangkan disebut sebagai gedung arca karena di sini terdapat berbagai jenis dan bentuk patung/ arca dari berbagai babakan periode sejarah nusantara.
Geschenk van Zijne Majesteit SOMDETCH PHRA PARAMINDR MAHA CHULALONKORN, Eersten Koning van Siam, aangeboden aan de stad..(- Batavia) ter herinnering aan zijn bezoek in de maand Maart 1871
(Hadiah dari yang mulia Somdetch Phra Paramarindr Maha CHULALONKORN, Raja Siam (Thailand) yang pertama, diberikan kepada kota.. >Batavia [terhapus, tetapi kemungkinan besar mengacu ke kota Batavia] sebagai kenang-kenangan atas kunjungannya pada bulan Maret 1871)
Museum Nasional berfungsi tidak hanya sebagai lembaga studi dan penelitian warisan budaya bangsa tapi juga berfungsi sebagai pusat informasi yang bersifat edukatif, kultural dan rekreatif. Sejarah panjang Museum Nasional tersebut menjadikan museum ini museum terbesar dan tertua di Indonesia.
Koleksi Museum Nasional
Museum Nasional memiliki banyak koleksi benda-benda budaya dari seluruh Nusantara. Di antaranya termasuk koleksi arca-arca, prasasti yang berasal dari kerajaan-kerajaan di Nusantara dan benda-benda seni budaya serta beraneka ragam benda-benda yang digunakan pada upacara tradisi dan ritual dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.
Hingga saat ini koleksi yang dikelola Museum Nasional berjumlah lebih dari 141.000. benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Koleksi tersebut dapat disaksikan dalam 9 ruangan berbeda, yaitu: Ruang Etnografi, Ruang Perunggu, Pra-Sejarah, Ruang Keramik, Ruang Tekstil, Ruang Numismatik & Heraldik, Ruang Relik Sejarah, Ruang Patung Batu, dan Ruang Khazanah.
Dahulu Museum Nasional juga memiliki perpustakaan yang menyimpan koleksi berupa naskah-naskah manuskrip kuno, namun setelah gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27 Jakarta Pusat didirikan, naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Nasional kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan juga pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Sejak tahun 1822 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan agar semua benda-benda sejarah, seni, budaya atau sejenisnya dari seluruh kepulauan nusantara yang didapatkan melalui ekspedisi ilmiah, ekspedisi militer, atau dikumpulkan oleh pegawai pemerintah, misionaris dan penyebar agama diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Selanjutnya perkumpulan Batavia akan mengajukan pembagian antara Batavia dan Nederland (Kerajaan Belanda). Sebagian dari koleksi ditempatkan di Museum Bataviaasch Genootschap dan sebagian lainnya ditempatkan di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia nama Museum van het Bataviaasch Genootschap menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian setelah Perang Dunia ke-2, pihak pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda secara teratur mengadakan pembicaraan bilateral mengenai pengembalian hak warisan budaya. Diskusi ini pada akhirnya menghasilkan persetujuan Wassenaar yang memutuskan pemilik sah atas warisan budaya tersebut. Sebagai kelanjutan dari persetujuan ini, pada tahun 1978 sebuah hasil ukiran batu maha karya yaitu Arca Prajnaparamita bersama dengan sejumlah besar harta karun Lombok dikembalikan kepada Indonesia. Kini benda-benda tersebut dapat disaksikan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam Ruang Perunggu dalam lemari kaca tersendiri, sementara arca Hindu tertua di Nusantara yaitu arca Wisnu Cibuaya berasal dari sekitar abad ke 4 Masehi berada di ruang arca batu terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.
Pengunjung Museum nasional dapat memilih koleksi mana yang akan dilihat di sini, sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka. Bila ingin melihat koleksi benda-benda yang terbuat dari emas, logam mulia dan batu-batuan berharga yang berasal dari kerajaan-kerajaan di nusantara, maka saat masuk museum belok ke kiri dan naik tangga menuju Ruang Khazanah emas atau Treasure Room dan berjalan searah jarum jam. Sementara apabila ingin melihat koleksi etnografi maka belok ke kanan dan berjalan berlawanan arah jarum jam. Koleksi arca atau patung ada di bagian tengah dan di halaman tengah museum.
Salah satu ruangan yang menarik lainnya di Museum Nasional adalah Ruang Thailand atau Thai Room. Ruang ini menyajikan berbagai benda-benda sejarah dari Thailand. Salah satunya adalah patung dan topeng Thotsakan Vishnukarman yang berwarna hijau. Topeng ini tampak eksotis dan menarik, warnanya yang hijau terlihat unik dan ekspresif seakan-akan hidup.
Ruang Khazanah Emas> The Treasure Rooms
Ruang Khazanah emas dibagi dua bagian, Ruang Arkeologi dan Ruang Etnografi. Di ruangan ini terdapat lebih dari 200 item benda-benda koleksi yang terbuat dari emas dan perak, benda-benda tersebut lebih banyak yang ditemukan secara tidak disengaja dibandingkan yang ditemukan melalui penggalian arkeologis.
Pada tahun 1990 seorang petani di Wonoboyo Klaten Jawa Tengah menemukan harta karun terpendam yang berasal dari periode Jawa Klasik sekitar abad ke-5 hingga ke-15 masehi. Harta karun tersebut kebanyakan berupa benda-benda perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, secara keseluruhan beratnya lebih dari 35 kilogram. Harta karun Wonoboyo kemungkinan terpendam lava dari letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar awal abad ke-10. Benda-benda ini merupakan penemuan terbesar abad ini di Indonesia dan sekarang dapat disaksikan di ruang Khazanah Arkeologi.
Koleksi di ruang Khazanah Etnografi terdiri dari benda-benda yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Kebanyakan benda-benda tersebut terbuat dari emas 14-24 karat dan banyak di antaranya yang dihiasi dengan batu-batu mulia.Selama berabad-abad Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan emas dan logam mulia lainnya. Benda-benda budaya dibuat dengan beberapa teknik pembuatan yang sesuai dengan babakan periode kebudayaan yang ada.
Koleksi yang ada di Museum Nasional merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan benda-benda di ruang Khazanah ini merupakan bukti sejarah atas peradaban budaya yang tinggi dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Indonesia dan hal ini tidak hanya sekedar dinilai dari bahan baku pembuatan benda tersebut namun nilai sejarah yang dikandungnya yang membuatnya sangat tidak ternilai. Tidak mengherankan museum ini telah mengalami beberapa kali kasus pencurian. Pada tahun 1960-an, terjadi kasus pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok Kusni Kasdut. Pada tahun 1979 terjadi pula kasus pencurian koleksi uang logam. Pada tahun 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Terakhir pada tahun 1996 kasus pencurian lukisan yang akhirnya bisa ditemukan kembali di Singapura.
Gedung Baru Museum Nasional
Museum Nasional sekarang ini terdiri dari dua unit, yaitu Gedung Museum Nasional (Unit A) serta bangunan baru, Gedung Arca (Unit B) yang mulai dibangun sejak tahun 1996, dan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 20 Juni 2007. Konsep penataan pameran di Gedung Arca diberi tema “Keanekaragaman Budaya Dalam Kesatuan”. Tema yang mencerminkan keanekaragaman kebudayaan bangsa sebagai modal bangsa. Konsep penataan tiap lantai di Gedung Arca yang terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 bertemakan Manusia dan Lingkungan, Lantai 2 IPTEK, Lantai 3 Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman dan Lantai 4 Khasanah Emas dan Keramik.
Jam Buka Museum:
Museum Nasional buka mulai pukul 08.30 hingga 14.30 pada hari Selasa, Rabu, Kamis dan Minggu. Pukul 08.30 hingga 11.30 pada hari Jumat dan pukul 08.30 hingga 13.30 pada hari Sabtu. Museum Nasional tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.
Tiket Masuk
Dewasa Rp. 750; Anak di bawah umur 17 tahun dan pelajar Rp. 250.
Asing/ Mancanegara Rp. 10.000.
Lokasi & Tempat Parkir:
Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, di seberang sisi sebelah barat Monumen Nasional dan sesudah Kantor Departemen Pertahanan RI ke arah utara/ Harmoni . Halaman depan dapat menampung mobil dan bis, dan selain itu terdapat tempat parkir yang luas di basement gedung Arca (gedung B)
Tata Tertib Museum
Pengunjung Museum Nasional diminta untuk tidak merokok, makan, dan minum di seluruh area museum dan dilarang untuk menyentuh benda-benda koleksi yang ada di museum.
Situ Babakan
Salah satu wisata alternatif warga Jakarta, Situ Babakan. Situ ini terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pada tahun 2004, bersamaan dengan HUT DKI yang ke-474 daerah sekitar situ dijadikan Pusat Perkampungan Betawi. Daerah cagar budaya ini meliputi 165 hektar, terdiri dari Kebun Rakyat, perkampungan masyarakat betawi serta kedua danau yang mengapit perkampungan ini.
Situ atau danau adalah dataran yang lebih rendah berfungsi sebagai penampung air permukaan. Untuk menanggulangi banjir, pemerintah kolonial membangun banyak situ di Jakarta, sayang kini banyak situ yang rusak/ berubah fungsi karena di urug. Salah satu situ yang masih berfungsi dengan baik adalah situ Babakan.
Apa yang menarik di Situ Babakan? Lingkungan alam yang sejuk dengan pepohonan rindang serta aneka tanaman buah dan tanaman hijau yang mengilingi desa merupakan tempat yang cocok untuk beristirahat. Situ ini juga dimanfaatkan banyak pengunjung untuk memancing di pinggir situ. Selain itu, letaknya dekat dengan Jakarta, namuan suasananya sudah hijau.
Ingin berperahu? Ada wisata sepeda air. Hanya dengan 10 ribu, anda bisa menyewa sepeda air dan berkeliling situ satu putaran. Akan lebih asyik bersepeda bersama keluarga atau pasangannya. Banyak keluarga membawa anak-anak mereka bersepeda air keliling situ. Wajah-wajah gembira anak-anak menambah pemandangan menjadi menarik.
Kalau sudah lelah, lapar, tersedia banyak penjual menjajakan makanan khas Betawi, antara lain: Kerak telur, Toge Goreng, siomay, Soo Betawi, Ketoprak, Ketupat Sayur, Bakso, Laksa, gulali, Mie Ayam, Bir Pletok, Nasi Uduk, Kue Ape dll.
Selain itu, bagi yang suka dengan budaya tradisional Betawi, di daerah ini juga sering diselenggarakan acara keseniah daerah Betawi seperti Tari Cokek, Tari Topeng, Lenong dan Ondel-ondel pada panggung terbuka setiap hari Sabtu dan Minggu. Pada acara ini biasanya pengunjungpun dapat ikut berinteraksi dalam pelaksanaan acara-acara tersebut, seperti ikut menari atau mengomentari para pemain lenong yang sedang beraksi.
Mau ke situ Babakan? Murah, untuk mobil hanya dikenai tiket masuk 3000 rupiah saja dan parkir 1000 rupiah.
Situ atau danau adalah dataran yang lebih rendah berfungsi sebagai penampung air permukaan. Untuk menanggulangi banjir, pemerintah kolonial membangun banyak situ di Jakarta, sayang kini banyak situ yang rusak/ berubah fungsi karena di urug. Salah satu situ yang masih berfungsi dengan baik adalah situ Babakan.
Apa yang menarik di Situ Babakan? Lingkungan alam yang sejuk dengan pepohonan rindang serta aneka tanaman buah dan tanaman hijau yang mengilingi desa merupakan tempat yang cocok untuk beristirahat. Situ ini juga dimanfaatkan banyak pengunjung untuk memancing di pinggir situ. Selain itu, letaknya dekat dengan Jakarta, namuan suasananya sudah hijau.
Ingin berperahu? Ada wisata sepeda air. Hanya dengan 10 ribu, anda bisa menyewa sepeda air dan berkeliling situ satu putaran. Akan lebih asyik bersepeda bersama keluarga atau pasangannya. Banyak keluarga membawa anak-anak mereka bersepeda air keliling situ. Wajah-wajah gembira anak-anak menambah pemandangan menjadi menarik.
Kalau sudah lelah, lapar, tersedia banyak penjual menjajakan makanan khas Betawi, antara lain: Kerak telur, Toge Goreng, siomay, Soo Betawi, Ketoprak, Ketupat Sayur, Bakso, Laksa, gulali, Mie Ayam, Bir Pletok, Nasi Uduk, Kue Ape dll.
Selain itu, bagi yang suka dengan budaya tradisional Betawi, di daerah ini juga sering diselenggarakan acara keseniah daerah Betawi seperti Tari Cokek, Tari Topeng, Lenong dan Ondel-ondel pada panggung terbuka setiap hari Sabtu dan Minggu. Pada acara ini biasanya pengunjungpun dapat ikut berinteraksi dalam pelaksanaan acara-acara tersebut, seperti ikut menari atau mengomentari para pemain lenong yang sedang beraksi.
Mau ke situ Babakan? Murah, untuk mobil hanya dikenai tiket masuk 3000 rupiah saja dan parkir 1000 rupiah.
Kue Rangi
KUE RANGI khas Betawi ini bisa jadi alternatif cemilan kita loh...
Kue yang terbuat dari kelapa,sagu aren dan disiram gula merah yang dicairkan.
Rasanya yang unik dan pekat akan rasa kelapa.
Bahan :
1/2 butir kelapa setengah tua, kupas, parut
100 g ampas kelapa
100 g tepung sagu aren
1/4 sdt garam
250 g gula merah, parut
Cara membuat :
Campur kelapa parut, ampas kelapa, tepung sagu, dan garam. Aduk hingga rata.
Panaskan wajan kecil, diameter 12 cm di atas api.
Taruh 1-2 sdm di dalamnya sambil ratakan hingga tipis. Masak hingga kering dan matang.
Taburi permukaannya dengan gula merah. Lipat dua. Angkat. dan Sajikan.
Dongeng Klenteng Ancol
Dahulu kala, ada sebuah kapal berlayar dari Negeri China menuju ke pelabuhan Sunda Kelapa, kapal itu milik Sampo Toalang. Di dalam kapal itu ada seorang juru masak yang bernama Ming.
Suatu hari, pada saat dalam perjalanan, tiba-tiba kapal itu diterjang ombak yang sangat besar. Semua orang panik dibuatnya. Mereka tidak menyangka akan adanya ombak besar karena cuaca hari itu sangat bagus.
Tiba-tiba di depan kapal mereka, muncul seekor naga yang amat besar. Dengan menjulurkan lidahnya, naga itu menghadang laju kapal itu. Rupanya naga itulah yang membuat ombak besar sehingga kapal terombang ambing.
Seketika Sampo Toalang mengeluarkan pedangnya, kemudian dia melompat ke arah sang naga dan pertarunganpun tak terhindarkan. Pertarungan itu seru sekali. Setelah lama bertarung, akhirnya naga itu berhasil dibunuh oleh Sampo Toalang. Melihat hal itu, anak buah kapal bersorak gembira karena semua bisa selamat.
Kapal Sampo Toalang kembali melanjutkan perjalanan dengan aman.
Singkat cerita, akhirnya kapal itu sudah mendekati daerah sunda kepala. Namun tiba-tiba Sampo Toalang berkata ”Saudara-saudara, kita akan berlabuh di Ancol, karena Sunda kelapa sedang banjir” ” sekarang kalian turunlah ke darat. Can belilah oabat-obatan dan kamu, Ming, belilah makanan dan minuman”
Akhirnya, semua anak buah Sampo Toalang turun di ancol. Mereka semua menjalankan tugas masing-masing.
Ming sang juru masak pergi ke pasar untuk membeli makanan dan minuman yang akan digunakan sebagai bahan persediaan di kapal.
Di sela-sela belanja, Ming melihat seorang gadis cantik. ”siapa gadis cantik itu, aku ingin tahu namanya” kata Ming dalam hati. Tanpa sungkan-sungkan akhirnya Ming mendatangi gadis itu ”Salam, namaku Ming, bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya Ming. ”Namaku Siti. Lengkapnya Siti Wati” kata gadis cantik itu.
Melihat kecantikan siti, Ming langsung menyukainya. Ming lupa akan tugasnya sebagai juru masak di kapal dan malah akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di Ancol demi si Siti.
Asmara mereka berdua berlanjut dan beberapa bulan kemudian Ming dan Siti Wati menikah.
Ming sangat disukai oleh penduduk Ancol. Dia mengajarkan penduduk Ancol memasak sesuai keahliannya sebagai juru masak.
Telah bertahun-tahun Ming tinggal di Ancol.
Suatu hari Ming dan istrinya sakit keras, entah apa penyakitnya, lama sakit mereka tak sembuh-sembuh dan akhirnya Ming dan Siti Wati meninggal dunia.
Untuk mengenang Ming dan Siti Wati, penduduk Ancol membangun sebuah kelenteng. Kelenteng itu dinamai kelenteng Ancol.
Suatu hari, pada saat dalam perjalanan, tiba-tiba kapal itu diterjang ombak yang sangat besar. Semua orang panik dibuatnya. Mereka tidak menyangka akan adanya ombak besar karena cuaca hari itu sangat bagus.
Tiba-tiba di depan kapal mereka, muncul seekor naga yang amat besar. Dengan menjulurkan lidahnya, naga itu menghadang laju kapal itu. Rupanya naga itulah yang membuat ombak besar sehingga kapal terombang ambing.
Seketika Sampo Toalang mengeluarkan pedangnya, kemudian dia melompat ke arah sang naga dan pertarunganpun tak terhindarkan. Pertarungan itu seru sekali. Setelah lama bertarung, akhirnya naga itu berhasil dibunuh oleh Sampo Toalang. Melihat hal itu, anak buah kapal bersorak gembira karena semua bisa selamat.
Kapal Sampo Toalang kembali melanjutkan perjalanan dengan aman.
Singkat cerita, akhirnya kapal itu sudah mendekati daerah sunda kepala. Namun tiba-tiba Sampo Toalang berkata ”Saudara-saudara, kita akan berlabuh di Ancol, karena Sunda kelapa sedang banjir” ” sekarang kalian turunlah ke darat. Can belilah oabat-obatan dan kamu, Ming, belilah makanan dan minuman”
Akhirnya, semua anak buah Sampo Toalang turun di ancol. Mereka semua menjalankan tugas masing-masing.
Ming sang juru masak pergi ke pasar untuk membeli makanan dan minuman yang akan digunakan sebagai bahan persediaan di kapal.
Di sela-sela belanja, Ming melihat seorang gadis cantik. ”siapa gadis cantik itu, aku ingin tahu namanya” kata Ming dalam hati. Tanpa sungkan-sungkan akhirnya Ming mendatangi gadis itu ”Salam, namaku Ming, bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya Ming. ”Namaku Siti. Lengkapnya Siti Wati” kata gadis cantik itu.
Melihat kecantikan siti, Ming langsung menyukainya. Ming lupa akan tugasnya sebagai juru masak di kapal dan malah akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di Ancol demi si Siti.
Asmara mereka berdua berlanjut dan beberapa bulan kemudian Ming dan Siti Wati menikah.
Ming sangat disukai oleh penduduk Ancol. Dia mengajarkan penduduk Ancol memasak sesuai keahliannya sebagai juru masak.
Telah bertahun-tahun Ming tinggal di Ancol.
Suatu hari Ming dan istrinya sakit keras, entah apa penyakitnya, lama sakit mereka tak sembuh-sembuh dan akhirnya Ming dan Siti Wati meninggal dunia.
Untuk mengenang Ming dan Siti Wati, penduduk Ancol membangun sebuah kelenteng. Kelenteng itu dinamai kelenteng Ancol.
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
▼
2011
(75)
- ► 12/11 - 12/18 (1)
- ► 12/04 - 12/11 (1)
- ► 11/06 - 11/13 (3)
- ► 10/23 - 10/30 (15)
- ► 10/16 - 10/23 (1)
- ► 10/09 - 10/16 (2)
- ► 10/02 - 10/09 (2)
- ► 09/11 - 09/18 (2)
- ► 09/04 - 09/11 (1)
- ► 07/31 - 08/07 (1)
- ► 07/24 - 07/31 (1)
- ► 07/10 - 07/17 (1)
- ► 07/03 - 07/10 (3)
- ► 06/26 - 07/03 (2)
- ► 06/19 - 06/26 (4)
- ► 06/12 - 06/19 (1)
- ► 06/05 - 06/12 (2)
- ► 05/29 - 06/05 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/15 - 05/22 (1)
- ► 05/08 - 05/15 (2)
- ► 04/17 - 04/24 (1)
- ► 04/10 - 04/17 (5)
- ► 04/03 - 04/10 (9)
- ► 03/20 - 03/27 (2)
- ► 03/13 - 03/20 (1)
- ► 03/06 - 03/13 (3)
- ► 02/27 - 03/06 (2)
- ► 01/30 - 02/06 (2)
- ► 01/16 - 01/23 (1)
-
►
2010
(2)
- ► 09/05 - 09/12 (2)





