Pages
Jumlah Pengunjung
About Me
- Jakarta Punya
- Jakarta Punya Souvenir,the city`s souvenir. Tempat di mana kamu bisa mendapatkan souvenir-souvenir cantik, unik dan menarik khas Jakarta. Dibawah asuhan dari KADIN JAYA dan UKM di beberapa daerah.
Jakarta Jakarta
Mystery of Batavia
Tokoh Jakarta
Cagar Budaya Jakarta
Makanan Khas Jakarta
Transportasi Jakarta
Cerita-Cerita Jakarta
Jakarta Punya Produk
Pesannyee
Jl.Wijaya II No.119 - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Rumah Sakit Cikini
Awalnya adalah rumah pelukis terkenal Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman (1814-1880) dan isterinya. Rumah ini dibangun pada tahun 1852 dengan arsitektur perpaduan antara gaya Neogotik Perancis clan Moor. Setelah Raden Saleh ditangkap pemerintah Belanda pada tahun 1869 atas tuduhan subversif, rumahnya dijual kepada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas.
Berdiri pada 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini), RS Cikini didirikan oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda, dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan agama. Biaya pendirian rumah sakit diperoleh dari Ratu Emma, digunakan untuk membeli bekas rumah pelukis kenamaan Raden Saleh di Menteng (Huis van Raden Saleh). Nirin Ninkeulen dari Depok menjadi pribumi pertama yang bekerja sebagai tenaga medis di RS Ratu Emma. Rumah Sakit Ratu Emma berubah nama menjadi Rumah Sakit Tjikini pada 1 Agustus 1913.
Pada masa pendudukan Jepang, RS Cikini dijadikan Rumah Sakit Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Pasca pendudukan Jepang (Agustus 1945 - Desember 1948), RS Tjikini dioperasikan oleh RAPWI dan kemudian DVG, hingga akhir 1948 RS Cikini dikembalikan pengelolaannya kepada pihak swasta dipimpin oleh R.F. Bozkelman. Tahun 1957, pengelolaan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) dengan Prof. Dr. Joedono sebagai pimpinan sementara. Selanjutnya diangkat dr. H. Sinaga, sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Yayasan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini kemudian diubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini. Pada 31 Maret 1989, sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI, dan adanya ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini disempurnakan menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini.
Yayasan Kesehatan PGI Cikini membawahi Rumah Sakit PGI Cikini, Akademi Perawat RS PGI Cikini (Akper Cikini), Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RS PGI Cikini (PPSDM), dan Balai Kesehatan Masyarakat di Tanjung Barat.
Souvenir Jakarta (Tanjidor Clothe)
Kesenian Betawi pasti identik dengan Tanjidor. Kesenian Betawi berbentuk orkes ini sudah ada sejak abad 19. Alat-alat musik yang digunakan terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, gesek dan perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau pawai daerah. Tidak hanya di Jakarta, Kesenian Tanjidor juga berada di Kalimantan Barat. Kini, Tanjidor hadir dalam kaos Jakarta Punya yang bercorak tulisan mengenai Tanjidor & sejarahnya.
Jayakarta
Seperti kita tahu, bahwa kemenangan Fatahillah atas Portugis pada tahun 1527 dengan keberhasilannya menduduki Pelabuhan Sunda Kelapa, membuat nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta "kemenangan Berjaya". Di bawah pemerintahan Fatahillah, daerah kekuasaan Jayakarta menjadi meluas sampai ke Banten. Cornelis de Houtman, tiba di perairan Banten pada tahun 1595, tetapi orang-orang Belanda baru pada tahun 1617 diperbolehkan berdagang di Jayakarta. Untuk itu mereka memperoleh sebidang tanah di sebelah timur sungai Ciliwung, yaitu perkampungan Cina.
Diatas tanah itu mereka membangun kantor dagang dan sebuah benteng. Apa yang terakhir di lakukan oleh orang-orang Belanda itu tidak menyenangkan bagi orang Jayakarta, Banten dan Inggris, sehingga pada tahun 1618 Belanda mendapat kesukaran dari ke-Tiga kekuatan tadi.
Pada tahun 1619 terjadi pertempuran antara orang-orang Belanda dengan orang Inggris. Jan Pieterzoon Coen pergi mencari bantuan kepada orang-orang Belanda yang ketika itu ada di Maluku. Dengan bantuan itu Coen kembali lagi untuk menaklukkan Jayakarta. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 30 mei 1619.
Maka dengan demikian sejarah Jayakarta memasuki lembaran baru. Nama Jayakarta oleh Belanda dig anti dengan Batavia, berasal dari nama Batavieren. Sebenarnya Coen menghendaki nama Niew Hoorn. Namun pimpinan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie = Persekutuan Dagang Hindia Timur atau Kompeni) di negeri leluhurnya didak menyetujuinya.
Souvenir Jakarta (Fatahillah)
Siapa yang tidak kenal Museum Fatahillah, bangunan yang lekat dengan History kota Jakarta ini tidak pernah lengang dimakan usia. Daya pikatnya selalu menarik hati setiap orang yang melihatnya. Seperti kita tahu, bangunan yang dulu bernama Stadhuis ini dulunya adalah Balai Kota, pusat pemerintahan Belanda (VOC) saat berkuasa di Indonesia.
Selain memiliki koleksi yang tidak ternilai harganya, bangunan ini juga menyimpan masa lalu yang kelam. Seperti Taman Fatahillah yang dulunya adalah tempat pemancungan dan hukuman gantung para pemberontak pribumi yang memberontak kebijakan Belanda.
Museum Fatahillah juga mempunyai banyak penjara yang diperuntukkan bagi para tahanan dan pemberontak. Penjara-penjara tersebut terletak di bagian belakang Museum Fatahillah. Saking kejamnya Belanda, satu penjara menampung 50 tahanan dengan jeruji besi di kaki mereka. Bisa kita bayangkan, penjara yang sempit, lembab harus dipaksakan menampung 50 tahanan tanpa mereka mendapat makan minum, dan (kejamnya lagi) untuk buang air saja mereka lakukan di situ. Jadi, tak jarang jika banyak tahanan yang mati karena kelaparan dan terserang penyakit. Dan, sadisnya mayat mereka ditelantarkan begitu saja.
Penjara yang satu lagi terletak di bagian bawah gedung. Kita harus menunduk terlebih dulu untuk bisa masuk ke dalamnya. Penjara ini dinamakan Penjara Air. Disebut demikian karena jika hujan, air yang meluap dari atas masuk ke dalam penjara karena letak penjara yang berada di bawah.
Kini, Penjara-penjara tersebut, termasuk koleksi Museum seperti Lemari kaca besar, meja bundar besar yang terbuat dari kayu jati, pedang yang dulunya dipakai untuk pemancungan pemberontak dan koleksi lainnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Termasuk patung Dewa Hermes dan Meriam Si Jagur yang konon memiliki pasangan, namun keberadaannya belum diketahui hingga saat ini. Cerita berhembus, jika kedua Meriam bertemu maka akan terjadi kiamat. Beleive it or not?!
Banyak sekali misteri di dalam Fatahillah yang belum terpecahkan, atau memang sengaja dirahasiakan. Tapi, yang pasti Museum Fatahillah sebagai bangunan yang memiliki nilai history tinggi tentang bangsa kita dan kekejaman Belanda, patut dan layak kita lestarikan sebagai cagar budaya.
Kadang, ada sebuah misteri di balik rahasia yang belum dan harus dipecahkan, tapi memang ada hal yang tidak akan pernah terungkap, biarlah itu menjadi misteri bagi sejarah.
Kini JAKARTA PUNYA hadir dengan koleksi Kaos Museum Fatahillah. Tersedia 2 warna, Putih dan Coklat, dengan ukuran M, L, XL, XXL & XXXL (Rp.115.000. Lengkapi koleksi Kaos Jakartamu sekarang juga. Info 083 895 197 127. Bukan sebuah harga yang menjadi perbandingan, melainkan nilai History yang tersimpan di dalamnya.
The Light Lotus of Dharma Bhakti Pagoda
Vihara terbesar di Jakarta dan memiliki nama lain Kim Tek Ji, terletak di Jl. Kemenangan, Jakarta Kota. Luas seluruh lingkungan sekitar 1.200 meter persegi. Menurut sejarahnya vihara ini berdiri sejak lebih kurang 400 tahunyang lalu. Memasuki vihara ini pada pintu gerbang besar tersusun gambar-gambar dan ukiran. Di dalam klenteng seluruhnya berjumlah lima belas kedudukan Hud, Sin, dan Sien. Di dekatnya ada ruangan untuk Hok Tek Tjin sin (Tuan tanah), dan di sebelah kirinya tempat kedudukan Tjay Sin Ya, di samping kanan Sin Go Ho Tjong Hun (5 macam). Di sebelah samping kanan tempat kedudukan Sien Sing ang Kong dan Sien Thay Suy Ya. Di sebe1ah kiri Sien Sing ang Kong tempat kedudukan Sien Hwa Kong Hwa Ma. Di sebelah kanan Siem Pek Houw Tjong Kun (Macan Putih).
Vihara ini masuk dalam keanggotaan M.A.B.I. (Majelis Agama Budha Indonesia). Beberapa orang yang pernah mengelola Vihara "Dharma Bhakti" adalah Bapak Yap Sutopo Wie Kie (Jaya Diguna budirnan), ang Je Kwi, Oey Tek Seng, Lie Tjin Thai dan pengurus tua lama : Ang Lee Tiok. Tujuan yayasan adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat golongan Buddhis, Taois, Konghucu dalam menunaikan peribadatannya, termasuk pelayanan sosial dalam pengobatan pada polikliniknya. Sejak tahun 1970-an bangunan klenteng diperbaiki terus-menerus dengan dana yang banyak diperoleh dari para anggota, donatur dan masyarakat pengunjung yang beribadah di tempat itu. Setiap hari para pengunjung yang bersembahyang rata-rata mencapai seratus orang.
Setiap tahun ada delapan kali acara yang teramat ramai dikunjungi orang sembahyang yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang, bertempat di Bio Ma Kwan Im, yaitu pada saat-saat : 1. Imlek tanggal 1 bulan 1 (tahun baru Imlek), 2. Imlek tanggal 8 bulan 1, Tian Kong Si (Sembahyang Tuhan Allah). 3. Imlek tgl. 15 bulan 1, Cap Go Me. 4. Imlek tgl. 19 bulan 2, hari Ulang Tahun Ma Kwan Im Pertama. 5. Imlek tgl. 19 bulan 6 hari Ulang Tahun Ma Kwan Im kedua. 6. Ma Kwan Im ketiga. 8. Imlek Tahun.
Dibangun pada sekitar tahun 1650, hal tersebut tercantum dalam Kronik Penduduk Tionghoa di Batavia. Pembangunannya dilakukan oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan dengan nama Guan Yin Ting. Pada tahun 1755 nama Jin De Yuan diberikan oleh Kapten Huang Shi Lao.
Masyarakat sekitar juga menyebutnya dengan nama Kim Tek I, sekarang diberi nama Vihara Dharma Bhakti. Bangunan ini pernah beberapa kali mengalami perbaikan. Pertama Tahun 1846, jalan masuk menuju Klenteng diperbaiki atas inisiatif Mayor Chen Yi Yu. Kemudian Tahun 1890 diperbaiki oleh Mayor Li Zi Feng. Secara keseluruhan bangunan Klenteng Jin De Yuan termasuk dalam satu kompleks dengan bangunan klenteng lain yaitu Klenteng Hui Ze Miao, Di Cang Wang Miao dan Xuan Tan Gong (Vihara Dharma Bhakti).
Seperti bangunan klenteng tradisional Cina pada umumnya, bentuknya menyerupai rumah tinggal orang China di Pecinan, namun perbedaannya tampak pada bentuk atap yang dibagi menjadi tiga bagian, dengan bagian ujungnya yang berbentuk seperti ekor wallet serta terdapat sepasang patung ukiran naga dan bola api di tengah pada atapnya yang melambangkan prinsip Yin dan Yang.
Seluruh bangunan di cat dalam warna merah seperti api dan darah yang melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan.
Pada bagian court yard terdapat semacam gazebo kecil untuk tempat membakar dupa dalam bentuk atap segi delapan, yakni lambang Pat-Kua, delapan arah mata angin, dengan ukiran patung naga pada setiap ujung-ujungnya. Pada ujung atap terdapat cungkup berbentuk bunga lotus.
The History of Jami Al-Mansyur Mosque
Salah satu masjid tua di Jakarta, dulu bernama Masjid Jami Kampung Sawah, terletak di Jl. Sawah Lio II/33, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Daerah ini rupanya dihuni orang dari Bima (Sumbawa), karena itu nama Jembatan Lima mungkin salah kaprah dengan Bima. Pada satu peta abad ke-19, kampung ini disebut Sawah Masjid. Didirikan pada abad 18, tepatnya tahun 1130 H (1717 M), ruang utama masjid al Mansur yang sekaligus bangunan tertua, bersegi empat (12 x 14.40 m).
Unsur yang mencolok adalah empat sokoguru yang kokoh dan tampak kekar di tengahnya. Bagian bawah tiang-tiang ini bersegi delapan dan diatasnya terdapat pelipit penyangga, pelipit genta serta rata. Batang utama (di bagian tengah) berbentuk bulat dan dihiasi pelipit juga. Bagian teratas berbentuk persegi empat dan dibatasi pelipit.
Pada ketinggian setengah diantara keempat sokoguru terdapat balok-balok kayu antara lain untuk menopang kedua tangga yang menuju ke loteng. Di atas balok-balok selebar 55 cm itu di sisi kanan dan kiri dipasang pagar setinggi 80 cm. Pola pagar ini berbentuk belah ketupat. Konstruksi ini dan bentuk sokoguru bergaya barat. Atap masjid ini tumpang tiga yang berbentuk limasan. Menara, yang terletak di ruang baru di depan masjid lama, berbentuk silinder setinggi dua belas meter. Pada bagian keempat dan kelima dari menara itu terdapat teras yang berpagar besi. Atap menara berbentuk kubah.
Masjid ini mempunyai peranan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda dan Jepang di bawah Pimpinan KH. Mohammad Mansyur. Tahun 1947/1948 masjid digrebeg dan ditembaki serdadu NICA, Moh. Mansyur digiring ke Hoof Bereau karena telah berani mengibarkan bendera merah putih di menara masjid. Setelah Moh. Mansyur meninggal tanggal 12 mei 1967, masjid diberi nama Masjid Jami al-Mansyur.
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
▼
2011
(75)
- ► 12/11 - 12/18 (1)
- ► 12/04 - 12/11 (1)
- ► 11/06 - 11/13 (3)
- ► 10/23 - 10/30 (15)
- ► 10/16 - 10/23 (1)
- ► 10/09 - 10/16 (2)
- ► 10/02 - 10/09 (2)
- ► 09/11 - 09/18 (2)
- ► 09/04 - 09/11 (1)
- ► 07/31 - 08/07 (1)
- ► 07/24 - 07/31 (1)
- ► 07/10 - 07/17 (1)
- ► 07/03 - 07/10 (3)
- ► 06/26 - 07/03 (2)
- ► 06/19 - 06/26 (4)
- ► 06/12 - 06/19 (1)
- ► 06/05 - 06/12 (2)
- ► 05/29 - 06/05 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/15 - 05/22 (1)
- ► 05/08 - 05/15 (2)
- ► 04/17 - 04/24 (1)
- ► 04/10 - 04/17 (5)
- ► 04/03 - 04/10 (9)
- ► 03/20 - 03/27 (2)
- ► 03/13 - 03/20 (1)
- ► 03/06 - 03/13 (3)
- ► 02/27 - 03/06 (2)
- ► 01/30 - 02/06 (2)
- ► 01/16 - 01/23 (1)
-
►
2010
(2)
- ► 09/05 - 09/12 (2)




