Sabtu, 05 Februari 2011 | By: Jakarta Punya

FIND ME!




Mini Outlet Jakarta Punya
Jl.Wijaya II No. 119 - Kebayoran Baru, Jakata Selatan

contact me : 021. 8332 7894 / 021. 7258617 (ext.23).

Facebook : jakartapunya
email : jakartapunyasouvenir@yahoo.com
twitter : @galerijakarta

Kami juga ada di :

- Nanonine Tebet
- Nanonine Lamandau
- MP Book Point
- Cita Beauty Center (CBC)
- Moose Beleiver Store
- Souvenir Shop Museum Sejarah Jakarta
- Discovery Jakarta Shop Blok M Square
- Alun - Alun Bandara
- Alun - Alun Grand Indonesia
- Prambors Concept Store
Rabu, 02 Februari 2011 | By: Jakarta Punya

HUKUMAN MATI DI KAMPUNG PECAH KULIT







Kurang lebih 288 tahun lalu disebuah tempat yang terletak dikawasan Jacatra Weg (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta), tepatnya didekat Gereja Portugis “Sion”, sebuah peristiwa hukuman mati untuk seseorang yang dicap sebagai pemberontak oleh pemerintahan Batavia pernah menjadi sebuah kisah tentang betapa rendahnya nilai kemanusiaan dimasa itu.
Adalah Pieter Erberveld. Seorang warga Batavia berdarah Indo-Jerman. Ayahnya merupakan penyamak kulit berdarah Jerman. Sedangkan ibunya berasal dari Negeri Siam. (Historical Sites Of Jakarta; Adolf Heuken – Sedangkan dalam bukunya Betawi Queen Of East, Alwi Shahab menyebutkan ibu Pieter Erberveld berasal dari Jawa).
Tidak diketahui dengan jelas sumber kebencian Pieter Erberveld kepada penguasa Belanda di Batavia, namun beberapa sumber menyebut konflik bermula akibat ketidakadilan pemerintah Batavia dalam kasus-kasus tanah di wilayah Pondok Bambu.
Sebagai salah seorang tuan tanah di Pondok Bambu, Pieter Erberveld merasa dirugikan ketika pemerintah kolonial menyita ratusan hektar tanah miliknya dengan alasan tanah tersebut tidak memiliki izin yang dikeluarkan pejabat berwenang.
Perlawanan dilakukan Pieter Erberveld terhadap kesewenangan yang dilakukan pemerintah kota. Dalam perlawanannya Pieter mendapat banyak simpati dan dukungan dari warga pribumi yang memang telah membenci pemerintahan Belanda di Batavia. Akibat perlawanannya itu Pieter Erberveld mendapat hukuman tambahan dari pemerintah kota. Ia dikenakan denda berupa 3300 ikat padi yang harus dibayarkan kepada pemerintah.
Kebencian yang semakin menjadi-jadi ini menyebabkan hubungan Pieter dengan warga Belanda di Batavia merenggang. Disisi lain, sikap simpati yang ditunjukkan warga pribumi terhadapnya semakin mengeratkan hubungan Pieter Erberveld dengan masyarakat bumiputera. Apalagi setelah ia berhasil menjalin hubungan dengan beberapa ningrat di kesultanan Banten.
Terciumnya hubungan Pieter dengan Kesultanan Banten membuat pemerintah kota Batavia gerah. Betapa tidak, saat itu Kesultanan Banten masih merupakan ancaman bagi kelangsungan pemerintahan Belanda di Batavia. Bahkan kabar bahwa Pieter Erberveld termasuk dalam kalangan orang-orang yang membenci pemerintahan Belanda di kota Batavia semakin membuat panas suasana.
Sebuah laporan resmi yang diterbitkan intelejen kolonial menyebutkan, Pieter Erberverld dengan dukungan dari kesultanan Banten (Raden Kartadirya) serta seorang pemuda Sumbawa bernama Layek telah merencanakan pemberontakan besar-besaran terhadap penguasa Belanda di Batavia. Ia berencana membunuh seluruh warga Belanda di Batavia.
Hari-H pemberontakan akan dilaksanakan pada 31 Desember 1721, atau tepat pada saat pesta malam pergantian tahun 1722 (dalam bukunya De Nederlandsch Oostindische Compagnie in de Achtiende eeuw;sejarawan Belanda Prof Dr.E.C. Goode Molsbergen meragukan kebenaran rencana pemberontakan ini. Goode menyebut rencana tersebut hanyalah konspirasi pemerintah kota Batavia untuk menyingkirkan Pieter Erberveld) .
Berdasarkan laporan tersebut pemerintah Batavia mengutus Reeyke Heere (Komisaris VOC untuk urusan Bumiputera) untuk melakukan penangkapan terhadap Pieter bersama dengan komplotannya (termasuk Raden Kartadirya & Layeek). Ia dipenjara dan dipaksa untuk mengakui rencana pemberontaknnya.
Kurang lebih empat bulan Pieter dipenjara. Sebelum akhirnya ia dan kelompoknya dijatuhi hukuman mati pada tanggal 22 April 1722 atas perintah Collage van Heemradeen Schepenen (Dewan Pejabat Tinggi Negara).
Berbeda dengan hukuman mati yang biasanya dilakukan pemerintah Batavia dengan jalan memancung korban atau menggantungnya didepan Stadhuis , hukuman mati bagi Pieter Erberveld dilaksanakan diluar tembok Batavia sebelah Selatan. Tepatnya di tempat yang sekarang bernama Kampung Pecah Kulit. Hukuman tersebut sangat sadis. Masing-masing tangan dan kaki Pieter serta pendukungnya diikat pada empat ekor kuda yang dipacu ke empat penjuru mata angin yang berlawanan hingga putus dan terpecah-pecah (beberapa sumber mengatakan asal muasal nama Kampung Pecah Kulit diambil dari peristiwa tersebut) .
Sebagai peringatan agar penduduk tidak mengikuti jejak Pieter Erberveld, pemerintah kolonial memotong kepala Pieter Erberlveld dan menancapkannya pada sebuah tombak. Kepala tersebut dibiarkan tergantung tanpa boleh disentuh. Sementara dilahan bekas pembantaian berlangsung, dibangun monumen peringatan dilengkapi dengan tembok batu dan patung tengkorak tertusuk tombak diatasnya.
Pada monumen tersebut terpampang 9 baris tulisan berbahasa Belanda yang dilengkapi dengan terjemahan aksara Jawa Kuno. Kurang lebih isinya menyatakan :
“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld.
Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722,” (Betawi, Queen Of East : Alwi Shahab).
Saat ini tidak jelas dimana keberadaan tembok monumen tersebut. Diduga monument tersebut dibongkar. Sedangkan lokasi bekas tempat pembantaian Pieter Erberveld di Jalan Pangeran Jayakarta juga telah berubah fungsi menjadi sebuah show room mobil sejak tahun 1986.
Yang pasti jika kita berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta, kita masih dapat meilhat inskripsi Pieter Erberveld terpampang ditembok halaman belakang museum tersebut. Atau jika kita berkunjung ke Museum Prasasti-Jakarta , kita dapat melihat bentuk tembok monumen Pieter Erberveld lengkap dengan inskripsi dan patung tengkorak yang tertusuk tombak diatasnya.
Minggu, 16 Januari 2011 | By: Jakarta Punya

Jakarta Service City


Keanekaragaman budaya merupakan salah satu aset kebanggaan suatu Negara. Indonesia adalah suatu Negara yang memiliki keanekaragaman tersebut. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Jakarta.
Jakarta merupakan sentralisasi sekaligus pusat perekonomian Indonesia, banyak pengusaha baik dalam dan luar negeri menjadi investor dalam pengembangan perekonomian. Namun dibalik semua itu,Jakarta juga mempunyai latar belakang dan keragaman budaya, yaitu kebudayaan Betawi.
Kebudayaan Betawi merupakan budaya campuran (mestizo) dari berbagai etnis. Sejak zaman Penjajahan, Jakarta mengalami beberapa perubahan nama yang pada akhirnya ditetapkanlah sebuah nama “Jakarta” sebagai icon. Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain Jawa, Sunda, Minang, Batak dan Bugis. Selain dari penduduk lokal, budaya Jakarta juga menyerap dari budaya luar seperti budaya Arab, Tiongkok, India dan Portugis.
Selain itu, Jakarta juga memiliki tempat-tempat bersejarah. Salah satunya monumen lubang buaya, monumen proklamasi, kota tua peninggalan belanda, serta beberapa museum yang menyimpan benda-benda bersejarah.
Melihat kebudayaan Jakarta yang unik, menarik serta perlunya pelestarikan budaya, kami bersama Kadin DKI Jakarta berusaha memperkenalkan produk-produk yang berhubungan dengan kebudayaan Jakarta.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) akan meluncurkan cendera mata khas Jakarta bernama "Jakarta Punya.” Peluncuran "Jakarta Punya" tersebut akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Taman Fatahillah, Jakarta. "Jakarta Punya" merupakan upaya menumbuhkan kembali bisnis, lapangan kerja, dan kebanggaan warga Jakarta terhadap kotanya.
Cendera mata "Jakarta Punya" terdiri dari barang-barang dengan berbagai desain unik, seperti baju dengan desain kreatif, boneka, tas, buku catatan dan cinderamata-cinderamata unik lainnya. "Jakarta Punya" diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Peluncuran "Jakarta Punya" tersebut merupakan bagian dari program Kadin yang bernama "Jakarta Service City" yang mengedepankan keunggulan Kota Jakarta dalam pariwisata, kewirausahaan, infrastruktur, permodalan bisnis, dan reformasi birokrasi.
Sebagai bagian dari program KADIN DKI Jakarta dan Pemrov DKI Jakarta, Jakarta Punya juga menaungi beberapa UKM dalam peningkatan UKM dan industri kreatif.
Senin, 06 September 2010 | By: Jakarta Punya

Pelabuhan Lama Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa

Terlihat sejumlah tongkang merapat di tepi Sungai Ciliwung setelah membawa penumpang dari luar negeri menuju Kota Batavia. Mereka dibawa dengan tongkang setelah melakukan perjalanan yang lama akibat muara pelabuhan Sunda Kalapa tidak dapat lagi didarati karena berlumpur. Di depannya, terlihat bangunan beratap seng tempat pemeriksaan bea cukai setelah penumpang diturunkan.

Para penumpang itu kemudian beristirahat di gedung yang berada di depannya. Di sini, mereka dapat bermalam untuk keesokan harinya meneruskan perjalanan ke pusat kota. Hotel atau tempat peristirahatan untuk menampung pendatang, sekaligus tempat bermalam untuk mereka yang bepergian keluar negeri merupakan tempat peristirahatan terkenal saat para tamu memasuki Kota Batavia. Letaknya di sebelah timur kanal Sunda Kalapa berseberangan dengan Museum Bahari, yang ketika itu berfungsi sebagai gudang rempah-rempah.

Dalam foto koleksi Tropen Museum, Amsterdam, terlihat gedung-gedung indah di sekitar muara kanal Sunda Kalapa. Bagian besar dari gedung tersebut kala itu digunakan untuk perkantoran dan pelayanan administrasi. Di sebelah kiri kanal, terlihat sebuah gedung besar. Gedung ini merupakan pasar ikan yang dibangun tahun 1846. Meski sekarang pasar tersebut sudah tidak ada lagi, nama Pasar Ikan masih tetap melekat hingga sekarang.

Di sekitar tempat inilah sebelum kedatangan VOC (Kompeni), tempat keberadaan keraton Pangeran Jayawikarta setelah menaklukkan Portugis pada 1527. Letaknya di sekitar Menara Syahbandar yang dibangun VOC pada abad ke-18 guna mengawasi keluar masuknya kapal. Kini, merupakan jalan ramai antara sebuah kantor polisi dan Museum Bahari. Menara Syahbandar– salah satu peninggalan sejarah Jakarta–kini keadaannya makin memprihatinkan. Menara ini dalam keadaan miring dan terancam runtuh.

Semua peristiwa pertempuran antara pasukan Jayakarta dan Portugis, seluruhnya terjadi di laut sekitar sebelah selatan jalan tol Tanjung Priok-Pluit yang baru. Sebab, kala itu seluruh daerah di kawasan Pasar Ikan masih berupa laut. Seluruh gedung yang terlihat dalam foto, kini tidak dapat kita temukan lagi. Dihancurkan oleh gubernur jenderal Marsekal Daendels pada 1808-1809 ketika ia memindahkan kota lama ke arah selatan, yang bernama Weltevreden (daerah yang lebih nyaman).

Pelabuhan Sunda Kalapa sudah tidak berfungsi lagi sebagai pelabuhan samudera sejak dipindahkan ke Tanjung Priok pada 1887, karena tidak lagi dapat menampung kapal-kapal uap yang jauh lebih besar daripada kapal layar.

Betawi Poenya Cerita

Legenda Jago Silat Sabeni

Para pesilat Indonesia dalam SEA Games ke-24 di Bangkok menjadi juara umum. Dua tahun sebelumnya di Manila berada di urutan kedua setelah Vietnam. Padahal, para pesilat Vietnam mahir dalam ilmu bela diri ini setelah mendapat latihan dan bimbingan dari pelatih Indonesia.

Beberapa waktu lalu pernah ada usul agar pencak silat diikutsertakan dalam Olympiade. Bila usulan ini diterima, para pesilat Indonesia diharapkan bisa mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Tapi, pencak silat sekarang ini telah berkembang di sejumlah negara termasuk di Eropa juga setelah mereka belajar dari para pesilat kita.

Bagi warga Betawi, main pencak silat adalah suatu kemustian. Pada tempo doeloe hampir di tiap kampung terdapat pendekar silat. Mereka sangat disegani, karena tingkah lakunya yang terpuji. Mereka menggunakan ilmu bela dirinya untuk amar ma’fur nahi munkar mengajar manusia ke jalan kebaikan dan mencegah kezaliman. Jauh dari tingkah laku para preman sekarang, yang main palak dan peres dengan kejamnya.

Kalau kita memasuki Jl KH Mas Mansyur dari arah Pasar Tanah Abang, di sebelah kanan jalan terdapat Jl Sabeni. Sabeni adalah pendekar silat Tanah Abang, yang lahir akhir abad ke-19 dan meninggal menjelang proklamasdi kemerdekaan (1945).

Ada peristiwa menarik yang dialami Sabeni pada masa penjajahan Jepang. Jepang yang tengah berperang melawan Sekutu memerlukan pemuda-pemuda untuk dijadikan Heiho semacam tenaga sukarelawan untuk membantu para prajurit Jepang.

Salah satu putra Sabeni, bernama Sapi’i, yang masih belia seperti juga pemuda lainnya, diharuskan menjadi Heiho. Ia pun ditempatkan di Surabaya. Karena tidak tahan menghadapi perlakuan tentara Dai Nippon, Sapi’ie minggat dari Surabaya dan ngumpet di rumah orang tuanya. Tentu saja pihak Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) tidak tinggal diam dan terus mencari keberadaannya. Karena Sapi’ie tidak juga tertangkap, Kempetai menahan Sabeni sebagai jaminan.

Mengetahui Sabeni kesohor sebagai jago silat, Kempetai ingin mengujinya. Komandannya menantang Sabeni untuk diadu dengan anak buahnya, seorang serdadu jago karate. ”Kalau Sabeni menang, bebas dan boleh pulang,” kata sang komandan, tulis Bang Thabrani dalam buku Ba-be. Duel berlangsung di Markas Kempetai di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sabeni berhasil berkelit dari serangan-serangan ahli karate itu. Bahkan, ia kemudian berhasil merobohkan prajurit Jepang itu dengan ilmu pukulan kelabang nyebrang.

Sang komandan yang kecewa karena kekalahan anak buahnya, kemudian menghadapkan seorang jago sumo untuk menundukkan Sabeni. Sabeni siap menghadapinya. Jago Sumo memasang kuda-kuda, kedua kakinya maju kedepan, berdiri ngangkang. Tangan ditaro di atas paha segede paha kuda. Kemudian keluar dari mulutnya suara, ”Eeek …!” Sambil membentangkan tangannya.

Menghadapi lawan dalam keadaan demikian, Sabeni loncat kodok, ke atas dengkul musuh yang lagi ngeden. Dengkul lawan dianggap talenan, dipakai buat salto ke atas. Untuk kemudian menyambar ubun-ubun si jago sumo, yang langsung terjengkang, ngegeloso, kagak bisa berdiri lagi karena keberatan badan dan akibat pukulan jago silat Tenabang itu.

Untuk menghormati Sabeni, jalan di depan kediamannya di Tanah Abang menjadi Jl Sabeni. Sedangkan makamnya dipindahkan dari Gang Kubur ke Karet Bivak berdekatan dengan makam Husni Thamrin.

Di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, dekat Masjelis Taklim Habib Ali, juga terdapat seorang jago silat bernama Muhammad Djaelani, yang dikenal dengan nama singkat Mad Djelani. Dia pernah dihukum seumur hidup oleh Belanda. Sebabnya, sekitar 1940-an ia membunuh seorang konsul Jepang di Batavia, karena disangkanya seorang Cina kaki tangan Belanda. Ia dibebaskan oleh Barisan Pelopor pada masa revolusi fisik.

Salah seorang cucunya, H Zakaria, mewarisi ilmu silatnya, Mustika Kwitang. Pada tahun 1960-an, pasukan pengawal Presiden Soekarno, Tjakrabirawa, mendatangkan suhu (guru besar) karate dari Jepang, Prof Nakagama, yang telah mendapat predikat Dan 7, disertai mahaguru karate dari AS, Donn F Dragen. Zakaria, pemuda kelahiran Kwitang, itu diminta untuk memperlihatkan tehnik bermain silat kepada kedua mahaguru karate tersebut.

Zakaria, yang kala itu masih muda, dengan lihainya memperagakan jurus-jurus bermain senjata dan memecahkan batu dengan menggunakan pergelangan tangan. Jago silat Kwitang ini juga menunjukkan kemahirannya memainkan senjata tajam dengan kecepatan tinggi. Atraksi ini mengundang kekaguman master karate Jepang. Kepada Bung Karno saat diterima di Istana Negara ia mengatakan, ”Mengapa Anda memiliki pemain sebagus ini kok pemuda-pemudinya kurang menyukai. Justru lebih suka ilmu bela diri dari Jepang?”

Ketika menuturkan kisah ini kepada penulis, Zakaria mengatakan, ”Banyak orang Indonesia menganggap rendah pencak silat dan dianggap permainan kampungan. Padahal, di Eropa dan Asia, kini banyak orang yang mempelajarinya.” Zakaria sendiri telah mengajarkan silat di Eropa.

Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial, tak mengizinkan permainan pencak silat. Karenanya, pada masa itu para pesilat kita belajar mulai pukul 02.00 dini hari sampai menjelang subuh. Alasan Belanda, kata Zakaria, para pemberontak seperti si Pitung, si Jampang, H Murtadho dan Entong Gendut dari Condet, adalah para ahli silat. Pada masa revolusi sejumlah ahli silat Betawi dan ulamanya bahu membahu memimpin barisan melawan Belanda.