Kamis, 15 September 2011 | By: Jakarta Punya

Gambang Kromong

Gambang Kromong

Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi, Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya.

Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong.

Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang. Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong yang berkolaborasi dengan dua orang wanita perantauan Cina yang baru tiba dengan membawa Tehyan dan Kongahyan.

Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut.

Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama.

Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan bapak Nya'at.

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan musik ini menjadi "terengah-engah" antara hidup dan mati (dalam tabel yang dibuat Yahya AS termasuk dalam kondisi "sedang"). Musik ini hanya terdengar di antara bulan Juni saja, yaitu sewaktu hari ulang tahun Jakarta. padahal tanggal dan tahun kelahiran kota jakarta saja belum jelas pastinya. Itupun di tempat-tempat tertentu, seperti di Setu Babakan misalnya.

Diperlukan pembinaan dan pelestarian berkelanjutan seni musik Gambang Kromong ini, khususnya bagi generasi muda Betawi. Kepedulian generasi muda Betawi terhadap keseniannya (seni musik dan seni silat) hendaknya harus melebihi generasi muda di daerah lainnya, karena keberadaan etnis Betawi itu sendiri yang berada di ibu kota Jakarta sebagai etalase kebudayaan Indonesia.

sumber : http://sahabatsilat.com/forum/seni-dan-budaya-nusantara/kesenian-musik-khas-betawi/
Jumat, 05 Agustus 2011 | By: Jakarta Punya

Tempat Berbuka Puasa Favorit

Bagi umat muslin, Ramadhan bukan berarti tidak bisa melakukan wisata kuliner layaknya bulan-bulan lainnya. Karena bisa jadi justru 'perburuan makanan' semakin seru ketika sambil ngabuburit. Di Jakarta banyak tempat makan favorit yang kerap didatangi orang untuk bersantap. Selama Ramadhan, tempat-tempat itu pun menjadi pilihan untuk berbuka puasa.
Di Jakarta Selatan, ada beberapa tempat yang dapat Anda kunjungi untuk berbuka puasa bersama rekan maupun keluarga. Misalnya Roti Bakar Edi di kawasan Kebayoran Baru tepatnya di Jalan Raden Patah, belakang Masjid Al-Azhar. Jadi setelah shalat magrib berjamaah, Anda bisa berbuka di tempat ini. Kemudian melanjutkan dengan shalat tarawih bersama.

Roti Bakar Edi sudah dikenal sejak tahun 80-an. Di sini Anda dapat menyantap roti bakar dengan aneka isi seperti keju, coklat dan lainnya. Ukuran rotinya besar, perporsinya Rp 7.000 s/d Rp 9.000 per porsi. Roti Bakar Edi pun menyediakan menu lain seperti nasi goreng dengan beberapa pilihan rasa, bubur ayam, siomay, nasi uduk dan Indomie telor kornet serta aneka minuma halal.

Kawasan Blok S pun dapat menjadi tempat yang cocok untuk tempat berbuka puasa. Selama ini Blok S sudah menjadi tempat favorit untuk berwisata kuliner, bahkan merupakan salah satu tempat pilihan hang out anak muda Jakarta. Ada beberapa pilihan tempat makan yang menjadi primadona dan banyak direkomendasikan orang untuk dikunjungi termasuk sebagai tempat berbuka puasa. Ada siomay, bakso, pempek, sate, dan lainnya. Tak ketinggalan es podeng khas Blok S yang sudah tersohor.

Kawasan Tebet pun dapat menjadi pilihan tempat untuk Anda berbuka puasa. Tepatnya di Jalan Tebet utara III. Di sini banyak pilihan tempat makan yang dapat Anda sambangi untuk makanan berbuka salah satu yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Warung Wafa tempat yang menyediakan makanan ringan dan pengganjal perut seperti roti bakar, dan indomi telur plus korned. Harga yang ditawarkan di WAFA 99 termasuk murah kisaran harganya Rp 4.000 - Rp 8.000.

Jika kurang puas menikmati santap buka, Anda dapat mengunjungi beberapa tempat makan yang menyediakan jenis makanan lokal maupun internasional. Salah satu restoran yang cukup laris adalah Bebek Ginyo, masih di Tebet. Resto ini memiliki menu bebek goreng, bakar, balado, sambal ijo, dan bebek kremes. Selain itu, menu pendukung seperti sayur asem, urap, pepes bebek, tahu, dan tempe. Minumnya ada es cendol, aneka jus, dan lainnya. Kisaran harga yang ditawarkan sangat terjangkau Harga Rp 4.000 - Rp 14.000.

Masih di Tebet, tak jauh dari Bebek Ginyo ada tempat makan yang menawarkan menu internasional yakni Kafe Burger & Grill yang menawarkan burger. Selain itu juga ada pilihan menu lain, misal sandwich, steak, spaghetti, sop buntut bakar, sop iga bakar, plus aneka minuman dan jus. Nah sekarang tinggal anda yang menentukan tempat mana yang mau kunjungi.

Di Jakarta Timur adai banyak tempat yang bisa menjadi referensi untuk wisata kuliner berbuka puasa. Ada yang bersifat musiman, banyak juga yang tetap. Untuk yang musiman di bulan Ramadhan dan bukanya pun hanya menjelang maghrib. Sedangkan tempat yang memang sudah tetap berjualan, untuk bulan ramadhan ini biasanya mulai berjualan menjelang maghrib.

Sebut saja sepanjang Terminal Rawamangun sampai Jalan Paus menjadi tempat pilihan berbuka puasa dari pedagang musiman sampai yang tetap, tumpah ruah. Masih di sekitar Rawamangun, tepatnya di Jajanan Tenda Balai Pustaka berbagai penganan berbuka puasa juga tersedua sejak pukul 5 sore.

Ada lagi tempat ngabuburit yang juga tempat berbuka puasa seperti di daerah Pulomas dan beberapa tempat lain seperti di Pasar Ampera, Pacuan Kuda, dan sepanjang Jalan Pulomas Raya.

Yang unik, beberapa jajanan yang jarang ditemui pun biasanya muncul di Bulan Ramadhan ini. Sebut saja kolak dengan berbagai varian, bubur sura yang berisi berbagai jenis kacang, dan berbagai jenis makanan dari berbagai daerah pun banyak dijual sebagai makanan berbuka puasa seperti gabus pucung, es kacang merah, dan es pisang ijo.

Jadi Bulan Ramadhan, bukan berarti perburuan kuliner berhenti.

Sumber: Majalah Travel Club


Sumber : http://liburan.info/content/view/714/46/lang,indonesian/ ,Sumber: Majalah Travel Club
Senin, 25 Juli 2011 | By: Jakarta Punya

TAMAN MINI INDONESIA INDAH

Sejarah TMII
Adalah Siti Hartinah Soeharto—yang akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto—mempunyai gagasan membangun kawasan wisata Taman Mini “Indonesia Indah”. Prakarsa itu diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental-spiritual.

Selaku ketua Yayasan Harapan Kita (YHK), yang berdiri pada tanggal 28 Agustus 1968, Ibu Tien Soeharto menyampaikan gagasan pembangunan Miniatur Indonesia pada rapat pengurus YHK tanggal 13 Maret 1970 di Jl. Cendana No. 8, Jakarta. Bentuk dan sifat isian proyek berupa bangunan utama bercorak rumah-rumah adat daerah yang dilengkapi dengan pergelaran kesenian, kekayaan flora-fauna, dan unsur budaya lain dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Gagasan itu dilandasi, antara lain, semangat untuk membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa serta untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia.

Tanggal 30 Januari 1971, pada penutupan Rapat Kerja Gubernur, Bupati, dan Walikota seluruh Indonesia di Istana Negara yang juga dihadiri oleh Presiden, Ibu Tien Soeharto dengan didampingi Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud untuk pertama kalinya memaparkan maksud dan tujuan pembangunan Miniatur Indonesia “Indonesia Indah” di depan umum. Berbagai saran, tanggapan, dan pemikiran dari berbagai kelompok masyarakat pun muncul, yang sebagian besar mendukung pembangunan proyek tersebut.

Pada tanggal 11 Agustus 1971, dengan surat YHK, Ibu Tien Soeharto menugaskan Nusa Consultans untuk membuat rencana induk dan studi kelayakan. Tugas itu selesai dalam waktu 3,5 bulan.

Lokasi pembangunan proyek awalnya berada di daerah Cempaka Putih, di atas tanah seluas + 14 hektar. Namun Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menyarankan lokasi di daerah sekitar Pondok Gede, Kecamatan Pasar Rebo, dengan luas tanah ± 100 hektar. Selain lebih luas, lokasi itu juga mengikuti perkembangan kota Jakarta di kemudian hari. Ibu Tien Soeharto menerima saran tersebut, karena dengan lahan yang lebih luas memungkinkan proyek miniatur Indonesia menampilkan rumah-rumah adat daerah dan bangunan-bangunan lain dalam ukuran yang sebenarnya.

Pada tanggal 30 Juni 1972 pembangunan dimulai tahap demi tahap secara bersinambung. Rancangan bangunan utama berupa peta relief Miniatur Indonesia berikut penyediaan airnya, Tugu Api Pancasila, bangunan Joglo, dan Gedung Pengelolaan disiapkan oleh Nusa Consultants berikut pembuatan jalan dan penyediaan kaveling tiap-tiap bangunan. Rancangan bangunan lain, seperti bangunan khas tiap daerah, dikerjakan oleh berbagai biro arsitek, sedang Nusa Consultants hanya membantu menjaga keserasian secara keseluruhan.

Berkat kegotong-royongan semua potensi nasional: masyarakat di sekitar lokasi, pemerintah pusat dan daerah, swasta, dan berbagai unsur masyarakat lainnya, dalam kurun waktu tiga tahun pembangunan TMII tahap pertama dinyatakan selesai.

Pada tanggal 20 April 1975 Taman Mini “Indonesia Indah” diresmikan pembukaannya oleh Presiden Soeharto.


Gagasan dan Sumber IIham

Tiada ketenaran tanpa awal gagasan dan karya yang mewujudkannya. Ketenaran Taman Mini "Indonesia Indah" di seluruh Nusantara dan di berbagai bagian dunia, tidak dapat dilepaskan dari pangkal tolaknya yang berupa gagasan yang terdengarnya sederhana tetapi mengandung nilai yang sangat tinggi.

Gagasan ini berupa keinginan atau cita-cita untuk membangkitkan rasa bangga dan tebalnya rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa, Indonesia. Gagasan ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Cita-cita ini diutarakan sebagai gagasan untuk mendirikan suatu tempat rekreasi yang mampu menggambarlan kebesaran dan keindahan Indonesia dalam bentuk miniatur. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no.8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970.

Sebagai pemrakarsa, Ibu Tien Soeharto (Ibu Negara) telah melihat jauh ke depan akan pentingnya menciptakan suatu bangunan miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya, kekayaan alam, kebudayaan dan kekayaan lainnya. Bertekad cita-cita ini, dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.

Prakarsa Ibu Negara ini bersumber pada kenyataan bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan di berbagai segi dan sumber. Pulaunya yang berjumlah belasan ribu. kelompok etnisnya yang memiliki ciri-ciri khas masing-masing, dalam bahasa, adat istiadat, perilaku tutur kata dan sebagainya, serta sumber daya alamnya yang sangat kaya ini tidak terlepas dari pengamatan Ibu Negara untuk melahirkan gagasan yang mulia dan sangat bermanfaat bila terwujud.

Filsafat dan Asas Pendirian

Tentulah ada asas-asas filsafat yang dijadikan landasan pendirian proyek miniatur ini. Kekokohan hasil proyek ini terbentuk berkat filsafat yang berpangkal pada amanat-amanat Presiden Republik Indonesia yang pada intinya ialah keseimbangan usaha pembangunan fisik dan ekonomi dengan pembangunan mental spiritual. Filsafat inilah yang menjadi batu pijakan pembangunan dan pengembangan Proyek Miniatur "Indonesia Indah". Filsafat ini dijadikan pilihan landasan karena Ibu Negara sadar dan melihat bahwa pada awal pembangunan yang dilaksanakan pada akhir tahun 1960-an belum mendapatkan perhatian semestinya. Karena kesadaran dan perhatian beliau inilah, beliau berprakarsa pelaksanaan pembangunan mental spiritual.

Secara lebih rinci ada lima aspek dan prospek yang dijadikan baik pijakan pembangunannya maupun pandangan dalam pengembangannya. Kelimanya ini ialah spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi, ekonomi, dan kesejahteraan. Pegangan teguh pada aspek dan prospek ini dapat dirasakan dan dilihat pada pengembangan yang telah berlangsung selama ini.

Aspek dan prospek spiritual serta pendidikan dan kebudayaan tidak terlepas dari pandangan Presiden Soeharto. Mengenai aspek dan prospek spiritual beliau menyatakan bahwa setiap usaha pembangunan ekonomi tidak mungkin dilakukan tanpa pembangunan mental, spiritual, rohaniah dan sosial . Mengenai pendidikan dan kebudayaan beliau mengungkapkan bahwa putra-putri harus menyiapkan diri sejak sekarang. melatih diri dan mengasah otak belajar berorganisasi dan mulai membaktikan diri kepada masyarakat, mencintai alam dan bangsanya sendiri. bangga kepada kebudayaannyan sendiri dan mau belajar hal-hal yang baik dari luar tanpa kehilangan kepribadian nasionalnya sendiri, berusaha sendiri dan selalu ingin mengetahui hal-hal baru agar dapat maju, mencintai kerja dan berusaha mencapai prestasi yang tinggi .

Mengenai aspek dan prospek teknologi, kata-kata Neil Armstrong, angkasawan Amerika, manusia pertama yang menjejakkan kaki di bulan, a little step of a man, a giant step of mankind yang artinya langkah kecil manusia tetapi berupa loncatan raksasa kemanusiaan, merupakan dambaan dalam membangun dan mengembangkan Proyek Miniatur "Indonesia Indah" ini. Hanya dengan teknologi yang ditulang-punggungi ilmu, manusia dapat melangkah maju dalam mewujudkan keinginan peningkatan ke arah ekonomi dan kesejahteraannya.

Selanjutnya mengenai aspek dan prospek ekonomi, kata-kata Presiden Soeharto menjadi pegangannya. Dikatakan oleh beliau bahwa, "Pembangunan ekonomi berarti pengolahan kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil melalui pananaman modal, penggunaan teknologi, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen" . Aspek dan prospek ini tidak terlepas dari aspek dan prospek berikutnya, yaitu kesejahteraan. Oleh Presiden Soeharto, dikatakan bahwa "Cita-cita kita adalah suatu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, kita ingin kehidupan kita lebih baik, makin maju, bertambah sejahtera dan adil" .

Kelima aspek dan prospek tersebut saling berkait. Kaitan inidalam pembangunan dan pengembangan Proyek Miniatur "Indonesia Indah terlihat nyata bila kita melihat taman miniatur ini secara keseluruhannya. Secara keseluruhan di sini melibatkan penglihatan kita terhadap wujud fisik, yang berupa bangunan, yang mengandung aspek dan prospek spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi, dan sarana dalam meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan, dan wujud program pergelaran yang mengandung aspek dan prospek spiritual, pendidikan dan kebudayaan, teknologi serta ekonomi dan kesejahteraan. Jelaslah bahwa baik dari pandangan fisik maupun langkah operasional. Proyek Miniatur ini erat berpegang pada aspek dan prospek pembangunannya.

Dengan filsafat ini sebagai landasan, ada sasaran yang ingin dijangkau oleh pendiri taman miniatur, yaitu meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengertian kepada bangsa-bangsa lain tentang Indonesia yang sebenarnya. Ke dalam sendiri, jangkauan pelaksanaan proyek ini ialah terjadinya proses pendidikan dan peningkatan pengetahuan bangsa sendiri mengenai tanah airnya, sehingga terpupuklah rasa cinta kepada tanah airnya. Inilah sebetulnya misi didirikannya taman miniatur ini.

Arti TMII

Arti Taman Mini “Indonesia Indah” adalah satu proyek untuk mencitrakan Indonesia yang lengkap dengan segala isinya dalam bentuk mini, berupa sebuah taman di atas sebidang tanah yang menggambarkan Indonesia yang besar ke dalam penampilan yang kecil
Bangunan pokok berupa danau buatan dengan pulau-pulau yang menggambarkan wilayah Indonesia. Kepulauan buatan tersebut merupakan bagian terpenting dari proyek ini dan disebut Miniatur Arsipel Indonesia. Pulau-pulau dibangun secara geografis di atas laut buatan sesuai dengan skala asli, dalam arti tinggi rendah daratan, hutan, keadaan gunung-gunung, dan tumbuh-tumbuhannya terlihat seperti perwujudan sesungguhnya.
Danau kepulauan ini, berikut bangunan-bangunan khas daerah di sekitarnya, secara keseluruhan dinamakan Taman Mini “Indonesia Indah”.

Visi, Misi dan Tujuan

Visi proyek adalah menjadikan Taman Mini “Indonesia Indah” sebagai kawasan wisata budaya yang terkemuka.
Dengan visi tersebut, TMII menetapkan misinya sebagai wahana pelestarian, pengenalan, dan pengembangan budaya bangsa. Oleh karena itu, sasaran pembangunannya tidak menitikberatkan pada keuntungan finansial melainkan pengembangkan kebudayaan nasional.

Maksud dan tujuan pembangunan Taman Mini “Indonesia Indah”:
Membangun dan mempertebal rasa cinta bangsa dan tanah air.
Memupuk serta membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Menghargai serta menjunjung tinggi kebudayaan nasional Indonesia dengan jalan menggali dan menghidupkan kembali kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang.
Memperkenalkan kebudayaan, kekayaan alam, dan warisan bangsa kepada sesama anak bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia.
Memanfaatkan untuk menarik wisatawan, dengan demikian meningkatkan kegiatan pariwisata, sarana promosi bagi tiap-tiap daerah di seluruh tanah air, dan menghidupkan kerajinan rakyat di seluruh daerah, menampung dan mengatur pemasarannya.
Ikut aktif membantu pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan dengan mempersembahkan suatu tempat rekreasi yang bersifat pendidikan kepada masyarakat Indonesia.



Uraian mengenal Logo dan Maskot

Dalam rangka meningkatkan citra positif dan menambah daya tarik masyarakat, pada 26 September 2007 diluncurkan logo baru “tmii” sebagai brand name.

Logo menggunakan empat warna dasar, yakni merah, biru, kuning, dan hijau, dengan pencitraan grafis huruf dan warna. Merah melambangkan semangat, biru mencitrakan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, kuning lambang kekayaan dan keragaman budaya, dan hijau mengacu pada kekayaan alam.

Motif logo menggunakan huruf lengkung untuk menggambarkan kedinamisan, keragaman budaya, dan kekayaan alam Indonesia. Pewarnaan dari merah ”t” menuju ke kuning “i” mengandung filosofi pergerakan terbit sampai terbenamnya matahari, warna biru adalah waktu saat beraktivitas dari kedinamisan, dan warna hijau adalah pencapaian dari sebuah kemakmuran. Grafis bulatan yang berputar tiada henti di atas kedua huruf “i” melambangkan kesatuan makna dari kata “Indonesia” dan kata “Indah”, serta melambangkan TMII sebagai tujuan terbaik untuk melihat lebih dekat keindahan dan kekayaan budaya dan alam Indonesia.


Maskot berupa tokoh epos Ramayana, yakni Anjani Putra—disingkat NITRA—nama lain Sang Hanoman. Tokoh NITRA menjadi icon TMII dan berperan sebagai sarana pengenal yang mempunyai makna informatif agar mudah diingat dan lekat di hati.
Penggunaan maskot NITRA diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto bertepatan dengan ulang tahun ke-16 TMII pada 20 April 1991.








Pemilihan tokoh NITRA didasarkan atas pertimbangan:
NITRA berwujud kera putih yang perkasa, mempunyai kepribadian menonjol, seperti berjuang membela dan menegakkan kebenaran tanpa pamrih, mahir berdiplomasi sehingga dipercaya sebagai duta.
NITRA memiliki berbagai kesaktian, sehingga mampu membasmi angkara murka dan membela kebenaran.
NITRA merupakan kesayangan dewa yang dikaruniai usia sangat panjang sebagai pembina generasi selanjutnya.
NITRA mempunyai watak yang dapat diteladani dan dapat menjadi sumber inspirasi yang menyatu dengan misi TMII sebagai wahana pelestarian, pengenalan dan pengembangan budaya, duta seni, serta mewariskan segala sesuatunya untuk generasi yang akan datang.
NITRA mencerminkan budi luhur, diharapkan menjadi suri tauladan bagi generasi muda dan menjadi pilihan idola yang bersumber dari nilai budayanya sendiri.
Visualisasi NITRA mengarah pada bentuk fisik yang disesuaikan agar menarik dan disenangi anak-anak, remaja, dan dewasa: ramah dan lucu tetapi mempesona.
Sebagai maskot, NITRA dapat berbentuk dua dimensi dan tiga dimensi, antara lain berwujud boneka, logo, ataupun produk cetak dan cenderamata sesuai kebutuhan.
Jumat, 08 Juli 2011 | By: Jakarta Punya

Soto Betawi

Resep Masakan Soto Betawi – Seperti daerah-daerah lain di Nusantara, Betawi juga punya makanan khasnya sendiri. Ada banyak makanan khas Betawi, sekarang kita coba resep masakan soto Betawi sebagai berikut :
Bahan :
500g jerohan (usus, paru, dan babat)
500g daging sapi skengkel (paha atas)
2 buah kentang, dikupas, dibelah 4 bagian, dan digoreng
2 batang serai, dimemarkan
3 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1½ liter santan sedang kentalnya
2 sdm air jeruk limo
2 sdm bawang goreng
1 batang daun bawang diiris halus
1 buah tomat dipotong 8 bagian
1 sdm daun sledri dirajang halus
1 batang kayu manis
1 sdt garam
1 sdm gula
minyak untuk menumis
emping melinjo goreng
Bumbu yang dihaluskan:
3 siung bawang putih
7 buah bawang merah
3 butir kemiri
2 sdt jintan
2 sdt lada
3 sdt ketumbar
Cara membuat :
* Bersihkan jerohan, kemudian rebus hingga ¾ empuk. Angkat dan sisihkan.
* Rebus santan hingga mendidih dengan api kecil. Masukkan jeroan dan daging. Rebus kembali hingga keduanya matang.
* Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang. Masukkan serai, daun salam, daun jeruk, dan kayu manis. Setelah bumbu benar-benar harum dan matang, masukkan jeroan, daging, garam, dan gula ke dalam rebusan.
* Angkat jeroan dan daging. Potong-potong sesuai selera, lalu goreng. Sisihkan.
* Cara menyajikan: Letakkan potongan kentang goreng, potongan jeroan dan daging, daun bawang, daun sledri, dan air jeruk limau di dasar mangkok. Siram dengan kuah soto. Terakhir, taburi dengan bawang goreng. Hidangkan dengan emping melinjo.
Rabu, 06 Juli 2011 | By: Jakarta Punya

Museum Nasional Republik Indonesia

Sejarah Museum Nasional
Sejarah Museum Nasional dimulai pada tanggal 24 April 1778 dengan dibentuknya sebuah wadah perkumpulan intelektual dan ilmuwan Belanda yang berada di Hindia Belanda, tepatnya di kota Batavia, yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan (-warga) Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan). Lembaga ini memiliki tujuan untuk mempromosikan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah, arkeologi, etnografi, dan mempublikasikan berbagai penemuan-penemuan di bidang tersebut.

Salah seorang pendiri, J.C.M. Radermacher menyumbangkan bangunan, koleksi buku-buku dan benda-benda budaya yang merupakan awal berharga untuk sebuah museum dan perpustakaan bagi masyarakat. Karena semakin meningkatnya jumlah koleksi, Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke 19 membangun tempat baru di Jalan Majapahit no. 3, di pavilyun gedung Harmonie dan menamakannya Literary Society. Kemudian pada periode berikutnya tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru yang tidak hanya berfungsi sebagai kantor tetapi juga sebagai tempat perawatan dan memamerkan koleksi-koleksi yang ada.

Museum ini dibuka secara resmi pada tahun 1868. Museum ini dikenal sebagai Gedung Gajah atau Gedung Arca, karena terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu di halaman depan yang merupakan pemberian dari Raja Siam (Thailand) pada bulan Maret 1871. Patung Gajah yang sama juga diberikan kepada negara Singapura dan hingga kini masih berada di Raffles Museum Singapura. Sedangkan disebut sebagai gedung arca karena di sini terdapat berbagai jenis dan bentuk patung/ arca dari berbagai babakan periode sejarah nusantara.

Geschenk van Zijne Majesteit SOMDETCH PHRA PARAMINDR MAHA CHULALONKORN, Eersten Koning van Siam, aangeboden aan de stad..(- Batavia) ter herinnering aan zijn bezoek in de maand Maart 1871

(Hadiah dari yang mulia Somdetch Phra Paramarindr Maha CHULALONKORN, Raja Siam (Thailand) yang pertama, diberikan kepada kota.. >Batavia [terhapus, tetapi kemungkinan besar mengacu ke kota Batavia] sebagai kenang-kenangan atas kunjungannya pada bulan Maret 1871)

Museum Nasional berfungsi tidak hanya sebagai lembaga studi dan penelitian warisan budaya bangsa tapi juga berfungsi sebagai pusat informasi yang bersifat edukatif, kultural dan rekreatif. Sejarah panjang Museum Nasional tersebut menjadikan museum ini museum terbesar dan tertua di Indonesia.

Koleksi Museum Nasional
Museum Nasional memiliki banyak koleksi benda-benda budaya dari seluruh Nusantara. Di antaranya termasuk koleksi arca-arca, prasasti yang berasal dari kerajaan-kerajaan di Nusantara dan benda-benda seni budaya serta beraneka ragam benda-benda yang digunakan pada upacara tradisi dan ritual dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.

Hingga saat ini koleksi yang dikelola Museum Nasional berjumlah lebih dari 141.000. benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Koleksi tersebut dapat disaksikan dalam 9 ruangan berbeda, yaitu: Ruang Etnografi, Ruang Perunggu, Pra-Sejarah, Ruang Keramik, Ruang Tekstil, Ruang Numismatik & Heraldik, Ruang Relik Sejarah, Ruang Patung Batu, dan Ruang Khazanah.

Dahulu Museum Nasional juga memiliki perpustakaan yang menyimpan koleksi berupa naskah-naskah manuskrip kuno, namun setelah gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27 Jakarta Pusat didirikan, naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Nasional kini disimpan di Perpustakaan Nasional.

Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan juga pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Sejak tahun 1822 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan agar semua benda-benda sejarah, seni, budaya atau sejenisnya dari seluruh kepulauan nusantara yang didapatkan melalui ekspedisi ilmiah, ekspedisi militer, atau dikumpulkan oleh pegawai pemerintah, misionaris dan penyebar agama diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Selanjutnya perkumpulan Batavia akan mengajukan pembagian antara Batavia dan Nederland (Kerajaan Belanda). Sebagian dari koleksi ditempatkan di Museum Bataviaasch Genootschap dan sebagian lainnya ditempatkan di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia nama Museum van het Bataviaasch Genootschap menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian setelah Perang Dunia ke-2, pihak pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda secara teratur mengadakan pembicaraan bilateral mengenai pengembalian hak warisan budaya. Diskusi ini pada akhirnya menghasilkan persetujuan Wassenaar yang memutuskan pemilik sah atas warisan budaya tersebut. Sebagai kelanjutan dari persetujuan ini, pada tahun 1978 sebuah hasil ukiran batu maha karya yaitu Arca Prajnaparamita bersama dengan sejumlah besar harta karun Lombok dikembalikan kepada Indonesia. Kini benda-benda tersebut dapat disaksikan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam Ruang Perunggu dalam lemari kaca tersendiri, sementara arca Hindu tertua di Nusantara yaitu arca Wisnu Cibuaya berasal dari sekitar abad ke 4 Masehi berada di ruang arca batu terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.

Pengunjung Museum nasional dapat memilih koleksi mana yang akan dilihat di sini, sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka. Bila ingin melihat koleksi benda-benda yang terbuat dari emas, logam mulia dan batu-batuan berharga yang berasal dari kerajaan-kerajaan di nusantara, maka saat masuk museum belok ke kiri dan naik tangga menuju Ruang Khazanah emas atau Treasure Room dan berjalan searah jarum jam. Sementara apabila ingin melihat koleksi etnografi maka belok ke kanan dan berjalan berlawanan arah jarum jam. Koleksi arca atau patung ada di bagian tengah dan di halaman tengah museum.

Salah satu ruangan yang menarik lainnya di Museum Nasional adalah Ruang Thailand atau Thai Room. Ruang ini menyajikan berbagai benda-benda sejarah dari Thailand. Salah satunya adalah patung dan topeng Thotsakan Vishnukarman yang berwarna hijau. Topeng ini tampak eksotis dan menarik, warnanya yang hijau terlihat unik dan ekspresif seakan-akan hidup.

Ruang Khazanah Emas> The Treasure Rooms
Ruang Khazanah emas dibagi dua bagian, Ruang Arkeologi dan Ruang Etnografi. Di ruangan ini terdapat lebih dari 200 item benda-benda koleksi yang terbuat dari emas dan perak, benda-benda tersebut lebih banyak yang ditemukan secara tidak disengaja dibandingkan yang ditemukan melalui penggalian arkeologis.

Pada tahun 1990 seorang petani di Wonoboyo Klaten Jawa Tengah menemukan harta karun terpendam yang berasal dari periode Jawa Klasik sekitar abad ke-5 hingga ke-15 masehi. Harta karun tersebut kebanyakan berupa benda-benda perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, secara keseluruhan beratnya lebih dari 35 kilogram. Harta karun Wonoboyo kemungkinan terpendam lava dari letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar awal abad ke-10. Benda-benda ini merupakan penemuan terbesar abad ini di Indonesia dan sekarang dapat disaksikan di ruang Khazanah Arkeologi.

Koleksi di ruang Khazanah Etnografi terdiri dari benda-benda yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Kebanyakan benda-benda tersebut terbuat dari emas 14-24 karat dan banyak di antaranya yang dihiasi dengan batu-batu mulia.Selama berabad-abad Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan emas dan logam mulia lainnya. Benda-benda budaya dibuat dengan beberapa teknik pembuatan yang sesuai dengan babakan periode kebudayaan yang ada.

Koleksi yang ada di Museum Nasional merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan benda-benda di ruang Khazanah ini merupakan bukti sejarah atas peradaban budaya yang tinggi dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Indonesia dan hal ini tidak hanya sekedar dinilai dari bahan baku pembuatan benda tersebut namun nilai sejarah yang dikandungnya yang membuatnya sangat tidak ternilai. Tidak mengherankan museum ini telah mengalami beberapa kali kasus pencurian. Pada tahun 1960-an, terjadi kasus pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok Kusni Kasdut. Pada tahun 1979 terjadi pula kasus pencurian koleksi uang logam. Pada tahun 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Terakhir pada tahun 1996 kasus pencurian lukisan yang akhirnya bisa ditemukan kembali di Singapura.

Gedung Baru Museum Nasional
Museum Nasional sekarang ini terdiri dari dua unit, yaitu Gedung Museum Nasional (Unit A) serta bangunan baru, Gedung Arca (Unit B) yang mulai dibangun sejak tahun 1996, dan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 20 Juni 2007. Konsep penataan pameran di Gedung Arca diberi tema “Keanekaragaman Budaya Dalam Kesatuan”. Tema yang mencerminkan keanekaragaman kebudayaan bangsa sebagai modal bangsa. Konsep penataan tiap lantai di Gedung Arca yang terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 bertemakan Manusia dan Lingkungan, Lantai 2 IPTEK, Lantai 3 Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman dan Lantai 4 Khasanah Emas dan Keramik.

Jam Buka Museum:
Museum Nasional buka mulai pukul 08.30 hingga 14.30 pada hari Selasa, Rabu, Kamis dan Minggu. Pukul 08.30 hingga 11.30 pada hari Jumat dan pukul 08.30 hingga 13.30 pada hari Sabtu. Museum Nasional tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.

Tiket Masuk
Dewasa Rp. 750; Anak di bawah umur 17 tahun dan pelajar Rp. 250.
Asing/ Mancanegara Rp. 10.000.

Lokasi & Tempat Parkir:
Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, di seberang sisi sebelah barat Monumen Nasional dan sesudah Kantor Departemen Pertahanan RI ke arah utara/ Harmoni . Halaman depan dapat menampung mobil dan bis, dan selain itu terdapat tempat parkir yang luas di basement gedung Arca (gedung B)

Tata Tertib Museum
Pengunjung Museum Nasional diminta untuk tidak merokok, makan, dan minum di seluruh area museum dan dilarang untuk menyentuh benda-benda koleksi yang ada di museum.