Senin, 11 April 2011 | By: Jakarta Punya

DODOL BETAWI


Dodol Betawi Depok berdiri sejak tahun 1980 an, dengan lingkup usaha di wiayah depok dengan pengelolaan home industri. Dengan harga yang terjangkau dodol betawi selalu memberikan kwalitas yang terbaik dan aroma serta rasa khas tersendiri.
Bagi masyarakat Betawi, proses pembuatan dodol tersirat makna sosial di dalamnya. Proses pembuatannya yang sulit dibutuhkan semangat bergotong royong dan semangat kebersamaan. Dari sini lah dibutuhkan kerja sama dan secara tidak langsung tali silaturahmi antar keluarga makin erat terjalin.
Tapi kini, sudah tidak ada keriangan membuat dodol betawi yang khas itu, bukan hanya saya yang berasal dari masyarakat Betawi di Bekasi, ketika mengunjungi keluarga yang berasal dari masyarakat Betawi lain seperti di Jakarta, punya cerita yang sama. Mungkin adanya kesibukan masing-masing keluarga, atau adanya pergeseran kebiasaan yang tidak bisa dipertahankan dari tahun ke tahun semakin menghilang karena satu atau lain sebab.

Berikut cara pembuatan Dodol Betawi :
Bahan yang dibutuhkan
1. 1 kg beras ketan
2. 700 gr gula merah
3. 700 gula pasir
4. 11/4 liter santan
5. 4 lembar daun pandan.
Cara pembuatan :
a. Masak hingga mendidih dan larut gula pasir, santan, gula merah dan daun pandan. Perlu diperhatikan bahwa selama proses harus terus di aduk sehingga santan tidak pecah.
b. Saring campuran di atas kemudian masak bersama tepung beras ketan. Aduk hingga rata dengan api yang kecil. Jangan lupa adukan harus sampai ke dasar. Masak hingga mengental dan tidak lengket di wajan/matang.
c. kemas dan sajikan.

STASIUN BEOS


Stasiun Kereta Api Jakarta Kota terletak di Jalan Taman Stasiun Kota No.1, Jakarta Barat. Stasiun ini dikenal dengan sebutan Stasiun Beos dan merupakan stasiun kereta api yang berusia cukup tua di Jakarta. Mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi.
Yang pertama, Beos berasal dari B.O.S (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij/ Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh.
Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain, seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang) dan lain-lain.
Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen, yakni perpaduan antara struktru dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.
Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana namun bercita rasa tinggi sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.
Sabtu, 09 April 2011 | By: Jakarta Punya

PELABUHAN SUNDA KELAPA


Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta. Pelabuhan ini terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal kota Jakarta.
Kala itu Sunda Kelapa milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran yang direbut oleh Pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada jaman pendahulu Kerajaan Sunda, yaitu Kerajaan Tarumanagara.
Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di Pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan Bahasa Melayu yang umum di Sumatera, yang kemudian dijadikan bahasa nasional, jauh sebelum peristiwa Sumpah Pemuda.
Selasa, 05 April 2011 | By: Jakarta Punya

MENARA SYAHBANDAR


Menara Syahbandar terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, Jakarta Utara. Bangunannya berarsitektur gaya Eropa yang dibangun pada tahun 1839. Fungsi dari bangunan semula adalah menara pengawas bagi keluar masuknya kapal ke/dari Pelabuhan Batavia (Kali Ciliwung).
Setelah pembangunan pelabuhan Tanjung Priok selesai (1886), menara pengawas (Uitlijk) berkurang peranannya, namun tetap dijadikan menara pengawas dan kantor Syahbandar bagi kegiatan Pelabuhan Pasar Ikan (1926-1967). Pada tahun 1967 dengan diresmikannya Pelabuhan Sunda Kelapa maka praktis Menara pengawas tidak difungsikan bagi kegiatan kepelabuhan. Pada masa pendudukan Jepang, kompleks ini dimanfaatkan untuk gudang penympanan logistik.
Tahun 1950-an pernah menjadi Kantor/Pos Kepolisian penjaringan hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1977 dijadikan bagian dari Museum Bahari.Pemandangan mata burung dari bagian tengah Menara Syahbandar ke arah Jl. Pasar Ikan. Menara Syahbandar ini menempati bekas benteng Culemborg yang dibangun sekitar 1645. Karena itulah pintu besi di bawah Menara Syahbandar konon menjadi jalan masuk ke lorong bawah tanah menuju Masjid Istiqlal yang pada masa kolonial adalah lokasi benteng Belanda (Citadel Prins Frederik).
Senin, 04 April 2011 | By: Jakarta Punya

ALI SADIKIN


Ali Sadikin (lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 – meninggal di Singapura, 20 Mei 2008 pada umur 80 tahun) adalah seorang letnan jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan Presiden Soekarno.
Ali Sadikin menjadi gubernur yang sangat merakyat dan dicintai rakyatnya. Karena itu ia disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali sementara istrinya, Ny. Nani Sadikin, seorang dokter gigi, disapa Mpok Nani.

Gubernur Jakarta

Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Di bawah kepemimpinannya Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan buah pikiran Bang Ali, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll. Bang Ali juga mencetuskan pesta rakyat setiap tahun pada hari jadi kota Jakarta, 22 Juni. Bersamaan dengan itu berbagai aspek budaya Betawi dihidupkan kembali, seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb.
Ia juga sempat memberikan perhatian kepada kehidupan para artis lanjut usia di kota Jakarta yang saat itu banyak bermukim di daerah Tangki, sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.
Selain itu, Bang Ali juga menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat itu lebih dikenal dengan nama Jakarta Fair, sebagai sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh tanah air, bahkan juga dari luar negeri. Ali Sadikin berhasil memperbaiki sarana transportasi di Jakarta dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya, serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman.
Di bawah pimpinan Bang Ali, Jakarta berkali-kali menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) yang mengantarkan kontingen DKI Jakarta menjadi juara umum selama berkali-kali.
Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.
Masa jabatan Ali Sadikin berakhir pada tahun 1977, dan ia digantikan oleh Letjen. Tjokropranolo.

Setelah Tidak Menjadi Gubernur

Setelah berhenti dari jabatannya sebagai gubernur, Ali Sadikin tetap aktif dalam menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk pembangunan kota Jakarta dan negara Indonesia. Hal ini membawanya kepada posisi kritis sebagai anggota Petisi 50, sebuah kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh militer dan swasta yang kritis terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.

Meninggal

Bang Ali meninggal di Singapura pada hari Selasa, 20 Mei 2008. Dia meninggalkan lima orang anak laki-laki dan istri keduanya yang ia nikahi setelah Nani terlebih dahulu meninggal mendahuluinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, anak sulung mantan presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana turut hadir melayat. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

PASAR IKAN


Pasar Ikan Sunda Kelapa merupakan pusat perdagangan di Asia. Macam-macam jenis ikan bisa kita temukan di Pasar Ikan ini. Seafood dan jenis ikan laut yang sulit ditemukan di pasar ikan lainnya ada di sini. Pasar Ikan Sunda Kelapa merupakan jaringan perniagaan yang sangat kuat. Karena hampir seluruh pedagang ikan lokal maupun asing membelinya di Pasar Ikan Sunda Kelapa. Karena letak Pasar Ikan Sunda Kelapa tidak jauh dari pelabuhan Sunda Kelapa. Pasar ikan yang tetap ramai hingga kini. Di depan areal menuju pasar ikan terdapat menara pengawas atau yang dulu dikenal dengan Uitkijk toren.

BING SLAMET


Bing Slamet adalah seniman serba-bisa, Bing dikenal sebagai penyanyi, musisi, pelawak dan aktor film yang menyandang nama besar. Sejak muda popularitas Bing sebagai penyanyi hampir sama akrabnya dengan keahlian melawak. Pada era 1950-an hingga 1970-an Bing telah menikmati kemasyhuran seorang bintang. Ia menjadi sosok yang melegenda dalam dunia hiburan di Indonesia.

Lahir 27 September 1927 di Cilegon, Jawa Barat. Anak Rintrik Ahmad, seorang mantri pasar, ini tidak hanya pandai menyanyi tetapi juga tangkas memainkan gitar. Pada masa kanak-kanak ia pernah dijuluki Abdullah Kecil, Abdullah adalah nama seorang penyanyi tenar di zaman itu, Pada usia 12 tahun, ia mulai bernyanyi didepan umum dan berkelana dalam barisan Penghibur Divisi VI Brawijaya dan sempat menclok di RRI Malang. Di bawah bimbingan Sam Saimun Iskandar dan pemain keroncong terkenal M. Sagi bakat menyanyinya berkembang. Keelokan suaranya sering disejajarkan dengan suara pembimbingnya sendiri, Sam Saimun.

Selain menyanyi, Bing yang bersuara bariton juga seorang pencipta lagu yang cermat memilih tema dan halus menumpahkan perasaannya. Ia pandai merayu alam maupun manusia, tangkas bercanda dan mengajak orang bergembira. Beberapa lagu ciptaannya anatra lain “Murai Kasih”, “Hanya Semalam”, “Ayu Kesuma”, “Risau” dan “Belaian Sayang”. Kesukaannya pada irama meriah mendorongnya membentuk orkes Mambetarumpajo, singkatan Mambo, Beguin, Tanggo, Rumba. Passo-dobel dan Joged. Tak lama setelah itu ia bersama Idris Sardi, Enteng Tanamal dan Benny Mustafa membentuk grup Eka Sapta Band.

Meski Bing bersekolah di HIS Pasundan dan STM Penerbangan ia tidak mau menjadi insinyur atau dokter seperti keinginan ayahnya. Ia telah memilih dunia panggung, menyanyi dan melawak sebagai jalan hidupnya. Kecintaan Bing pada dunia hiburan menempatkannya sebagai sosok yang disegani di dunianya. Sejak kecil bakat melawak Bing telah muncul bersamaan dengan bakat menyanyinya. Pada masa awal 1950-an ia pernah membentuk grup lawak “Los Gilos” dengan Tjepot dan Udel yang secara tetap melawak di RRI. Pada tahun 1953, ia menjuarai lomba lawak nasional. Setahun kemudian ia menjuarai Bintang Radio jenis hiburan. Sejak ssat itu popularitasnya kian menanjak di panggung hiburan.

Bing Slamet juga pernah membentuk kelompok lawak Trio SAE bersama Eddy Sud dan Atmonadi pada tahun 1967. Kelompok ini bubar cepat. Setahun kemudian ia membentuk kelompok lawak Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak dan Eddy Sud yang mendominasi dunia pementasan era 1970-an. Dengan mengangkat peristiwa aktual sebagai tema lawakan, pertunjukkan Kwartet Jaya selalu dipadati penonton. Dengan gaya jenaka dan kekanak-kanakkan yang alamiah Bing Slamet Selalu tampil memukau.

Selain tampil melawak dipanggung, Bing juga merambah dunia film. Ia memulai kariernya sebagai bintang figuran dalam film “Menanti Kasih”, selanjutnya film “Di Simpang Djalan” tahun 1955, film “Pilihlah Aku” tahun 1956, film “Hari Libur””tahun 1958, film “Bing Slamet Tukang Betjak””tahun 1959, film “Amor dan Humor””tahun 1961, film “Bing Slamet Merantau””tahun 1962 dan film “Bunga Putih””tahun 1966. Bing Slamet juga mendirikan Safari Sinar Sakti Film dan memproduksi film komedi secara berseri dengan grup lawak Kwartet Jaya, seperti “Bing Slamet Setan Jalan””tahun 1972, “Bing Slamet Sibuk””tahun 1973, “Bing Slamet Dukun Palsu””tahun 1973 dan “Bing Slamet Koboi Cengeng””tahun 1974. Sebagai seorang aktor, Bing bekerja tanpa kenal lelah dan professional melakoni jalan hidupnya didunia film. Tanggung jawabnya mendorongnya bekerja tanpa kompromi, termasuk ketika sakit keras. Dalam film “Bing Slamet Koboi Cengeng”, meski menderita sakit lever ia masih berusaha berakting memikat pecintanya.

Pada tahun 1956, setelah merebut gelar Bintang Radio, Bing menikah dengan Ratna Komala Furi. Pasangan ini dikaruniai delapan anak, enam putra dan dua putri. Meski ia seorang bintang ia tidak terpukau dengan gemerlapnya dunia hiburan. Bing tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya sebagai seniman. Sebagai seniman serba-bisa Bing telah membuktikan pengabdian pada dunia hiburan. Sepanjang kariernya Bing pernah beberapa kali menjadi duta bangsa. Pergaulannya yang luas di berbagai kalangan menjadikannya sosok yang selalu dikenang. Ia pandai membawa diri dan dikenal sebagai pribadi pemurah, baik dimata teman dan keluarganya.

Setelah bekerja keras dan menikmati pujian sebagai bintang panggung selama bertahun-tahun, Bing Slamet menyerah pada ganasnya penyakit lever yang dideritanya. Pada 17 Desember 1974, pukul 14.50 WIB, Bing menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya Eddy Sud di Jakarta. Dengan iringan isak tangis beribu-ribu orang mengantarkan Bing ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Karet Bivak Jakarta.

Filmografi

Nama :
Achmad Syech Albar

Lahir :
Cilegon, Jawa Barat,
27 September 1927

Wafat :
Jakarta, 17 September 1974

Pendidikan :
HIS Pasundan,
STM Penerbangan

Profesi :
Musisi, Pelawak dan Aktor

Lagu :
Murai Kasih,
Hanya Semalam,
Ayu Kesuma,
Risau,
Belaian Sayang

Filmografi :
Menanti Kasih,
Di Simpang Djalan (1955),
Pilihlah Aku (1956),
Hari Libur (1958),
Bing Slamet Tukang Betjak (1959),
Amor dan Humor (1961),
Bing Slamet Merantau (1962),
Bunga Putih (1966),
Bing Slamet Setan Jalan (1972),
Bing Slamet Sibuk (1973),
Bing Slamet Dukun Palsu (1973),
Bing Slamet Koboi Cengeng (1974)

Penghargaan :
Bintang Radio (1956)