Pages
Jumlah Pengunjung
About Me
- Jakarta Punya
- Jakarta Punya Souvenir,the city`s souvenir. Tempat di mana kamu bisa mendapatkan souvenir-souvenir cantik, unik dan menarik khas Jakarta. Dibawah asuhan dari KADIN JAYA dan UKM di beberapa daerah.
Jakarta Jakarta
Mystery of Batavia
Tokoh Jakarta
Cagar Budaya Jakarta
Makanan Khas Jakarta
Transportasi Jakarta
Cerita-Cerita Jakarta
Jakarta Punya Produk
Pesannyee
Jl.Wijaya II No.119 - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
H. BENYAMIN SUEB
Benyamin Sueb (lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939 – meninggal 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
Awal Karier
Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.
Duet dengan Ida Royani
Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.
Gambang Kromong
Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.
Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).
Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.
Paska duet dengan Ida Royani
Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranya “Nenamu” dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.
Dunia Film
Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.
Akhir karier
Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.
Kontribusi terhadap gambang kromong
Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.
Meninggal dunia
Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya.
Pendidikan
.: Sekolah Rakyat Bendungan Jago Jakarta (1946-1951), SD Santo Yosef Bandung (1951-1952)
.: SMPN Taman Madya Cikini, Jakarta (1955)
.: SMA Taman Siswa, Jakarta (1958)
.: Akademi Bank Jakarta (Tidak tamat) ; Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan (1960)
.: Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960)
.: Kursus Lembaga Administrasi Negara (1964)
MUSEUM BAHARI
Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, Penjaringan, Jakarta Utara. Bangunan ini merupakan bangunan kuno yang dibangun secara bertahap sejak tahun 1652-1774. Ketika itu bangunan ini digunakan oleh VOC Belanda sebagai gudang rempah-rempah. Selanjutnya pada pemerintahan Jepang di Indonesia gedung yang dikenal sebagai gudang rempah-rempah ini sejak tahun 1942 beralih fungsi menjadi gudang logistik peralatan militer Jepang.
Museum Maritim atau lebih dikenal dengan nama Museum Bahari bentuk model atau replika kecil, photo, lukisan serta berbagai model perahu tradisional, perahu asli, alat navigasi, kepelabuhan serta benda lainnya yang berhubungan dengan kebaharian Indonesia. Museum ini mencoba menggambarkan kepada para pengunjungnya mengenai tradisi melaut nenek moyang Bangsa Indonesia dan juga pentingnya laut bagi perekonomian Bangsa Indonesia dari dulu hingga kini.
Museum ini juga memiliki berbagai model kapal penangkap ikan dari berbagai pelosok Indonesia termasuk juga jangkar batu dari beberapa tempat, mesin uap modern dan juga kapal Pinisi (kapal phinisi Nusantara) dari suku Bugis (Sulawesi Selatan) yang kini menjadi salah satu kapal layar terkenal di dunia.
Berlokasi di Jl. Pasar Ikan no 1. Jakarta Utara, Telepon: 6693406
MASJID LUAR BATANG
Lokasinya berada di Jalan Luar Batang I, Kmapung Luar Batang, Jakarta Utara. Banyak orang Jawa yang tinggal disini, makanya dalam peta yang dibuat oleh Van Der Parra tahun 1780, lokasi ini disebut Javasche Kwartier, namun setelah itu orang lebih mengenalnya Luar Batang. Usut punya usut, orang pada saat itu jika ke lokasi ini berarti ke luar kota dan harus melewati tanda batas dalam bentuk batang. Tidak dijelaskan batang apa. Maka kemudian dikenal dengan sebutan Luar Batang hingga kini.
Keberadaan fungsi Masjid ini ada sejak tahun 1739. Awalnya sebagai musholla orang-orang Jawa. Masjid ini menjadi keramat karena ada Makam Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Al Aidrus yang wafat pada tanggal 24 Juni 1756. Masjid ini sering didatangi peziarah dari berbagai pelosok tanah air.
Rumah Sakit Cikini
Awalnya adalah rumah pelukis terkenal Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman (1814-1880) dan isterinya. Rumah ini dibangun pada tahun 1852 dengan arsitektur perpaduan antara gaya Neogotik Perancis clan Moor. Setelah Raden Saleh ditangkap pemerintah Belanda pada tahun 1869 atas tuduhan subversif, rumahnya dijual kepada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas.
Berdiri pada 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini), RS Cikini didirikan oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda, dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan agama. Biaya pendirian rumah sakit diperoleh dari Ratu Emma, digunakan untuk membeli bekas rumah pelukis kenamaan Raden Saleh di Menteng (Huis van Raden Saleh). Nirin Ninkeulen dari Depok menjadi pribumi pertama yang bekerja sebagai tenaga medis di RS Ratu Emma. Rumah Sakit Ratu Emma berubah nama menjadi Rumah Sakit Tjikini pada 1 Agustus 1913.
Pada masa pendudukan Jepang, RS Cikini dijadikan Rumah Sakit Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Pasca pendudukan Jepang (Agustus 1945 - Desember 1948), RS Tjikini dioperasikan oleh RAPWI dan kemudian DVG, hingga akhir 1948 RS Cikini dikembalikan pengelolaannya kepada pihak swasta dipimpin oleh R.F. Bozkelman. Tahun 1957, pengelolaan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) dengan Prof. Dr. Joedono sebagai pimpinan sementara. Selanjutnya diangkat dr. H. Sinaga, sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Yayasan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini kemudian diubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini. Pada 31 Maret 1989, sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI, dan adanya ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini disempurnakan menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini.
Yayasan Kesehatan PGI Cikini membawahi Rumah Sakit PGI Cikini, Akademi Perawat RS PGI Cikini (Akper Cikini), Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RS PGI Cikini (PPSDM), dan Balai Kesehatan Masyarakat di Tanjung Barat.
Souvenir Jakarta (Tanjidor Clothe)
Kesenian Betawi pasti identik dengan Tanjidor. Kesenian Betawi berbentuk orkes ini sudah ada sejak abad 19. Alat-alat musik yang digunakan terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, gesek dan perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau pawai daerah. Tidak hanya di Jakarta, Kesenian Tanjidor juga berada di Kalimantan Barat. Kini, Tanjidor hadir dalam kaos Jakarta Punya yang bercorak tulisan mengenai Tanjidor & sejarahnya.
Jayakarta
Seperti kita tahu, bahwa kemenangan Fatahillah atas Portugis pada tahun 1527 dengan keberhasilannya menduduki Pelabuhan Sunda Kelapa, membuat nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta "kemenangan Berjaya". Di bawah pemerintahan Fatahillah, daerah kekuasaan Jayakarta menjadi meluas sampai ke Banten. Cornelis de Houtman, tiba di perairan Banten pada tahun 1595, tetapi orang-orang Belanda baru pada tahun 1617 diperbolehkan berdagang di Jayakarta. Untuk itu mereka memperoleh sebidang tanah di sebelah timur sungai Ciliwung, yaitu perkampungan Cina.
Diatas tanah itu mereka membangun kantor dagang dan sebuah benteng. Apa yang terakhir di lakukan oleh orang-orang Belanda itu tidak menyenangkan bagi orang Jayakarta, Banten dan Inggris, sehingga pada tahun 1618 Belanda mendapat kesukaran dari ke-Tiga kekuatan tadi.
Pada tahun 1619 terjadi pertempuran antara orang-orang Belanda dengan orang Inggris. Jan Pieterzoon Coen pergi mencari bantuan kepada orang-orang Belanda yang ketika itu ada di Maluku. Dengan bantuan itu Coen kembali lagi untuk menaklukkan Jayakarta. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 30 mei 1619.
Maka dengan demikian sejarah Jayakarta memasuki lembaran baru. Nama Jayakarta oleh Belanda dig anti dengan Batavia, berasal dari nama Batavieren. Sebenarnya Coen menghendaki nama Niew Hoorn. Namun pimpinan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie = Persekutuan Dagang Hindia Timur atau Kompeni) di negeri leluhurnya didak menyetujuinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
▼
2011
(75)
- ► 12/11 - 12/18 (1)
- ► 12/04 - 12/11 (1)
- ► 11/06 - 11/13 (3)
- ► 10/23 - 10/30 (15)
- ► 10/16 - 10/23 (1)
- ► 10/09 - 10/16 (2)
- ► 10/02 - 10/09 (2)
- ► 09/11 - 09/18 (2)
- ► 09/04 - 09/11 (1)
- ► 07/31 - 08/07 (1)
- ► 07/24 - 07/31 (1)
- ► 07/10 - 07/17 (1)
- ► 07/03 - 07/10 (3)
- ► 06/26 - 07/03 (2)
- ► 06/19 - 06/26 (4)
- ► 06/12 - 06/19 (1)
- ► 06/05 - 06/12 (2)
- ► 05/29 - 06/05 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/15 - 05/22 (1)
- ► 05/08 - 05/15 (2)
- ► 04/17 - 04/24 (1)
- ► 04/10 - 04/17 (5)
- ► 04/03 - 04/10 (9)
- ► 03/20 - 03/27 (2)
- ► 03/13 - 03/20 (1)
- ► 03/06 - 03/13 (3)
- ► 02/27 - 03/06 (2)
- ► 01/30 - 02/06 (2)
- ► 01/16 - 01/23 (1)
-
►
2010
(2)
- ► 09/05 - 09/12 (2)




