Minggu, 20 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

Souvenir Jakarta (Tanjidor Clothe)


Kesenian Betawi pasti identik dengan Tanjidor. Kesenian Betawi berbentuk orkes ini sudah ada sejak abad 19. Alat-alat musik yang digunakan terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, gesek dan perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau pawai daerah. Tidak hanya di Jakarta, Kesenian Tanjidor juga berada di Kalimantan Barat. Kini, Tanjidor hadir dalam kaos Jakarta Punya yang bercorak tulisan mengenai Tanjidor & sejarahnya.
Selasa, 15 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

Jayakarta


Seperti kita tahu, bahwa kemenangan Fatahillah atas Portugis pada tahun 1527 dengan keberhasilannya menduduki Pelabuhan Sunda Kelapa, membuat nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta "kemenangan Berjaya". Di bawah pemerintahan Fatahillah, daerah kekuasaan Jayakarta menjadi meluas sampai ke Banten. Cornelis de Houtman, tiba di perairan Banten pada tahun 1595, tetapi orang-orang Belanda baru pada tahun 1617 diperbolehkan berdagang di Jayakarta. Untuk itu mereka memperoleh sebidang tanah di sebelah timur sungai Ciliwung, yaitu perkampungan Cina.
Diatas tanah itu mereka membangun kantor dagang dan sebuah benteng. Apa yang terakhir di lakukan oleh orang-orang Belanda itu tidak menyenangkan bagi orang Jayakarta, Banten dan Inggris, sehingga pada tahun 1618 Belanda mendapat kesukaran dari ke-Tiga kekuatan tadi.
Pada tahun 1619 terjadi pertempuran antara orang-orang Belanda dengan orang Inggris. Jan Pieterzoon Coen pergi mencari bantuan kepada orang-orang Belanda yang ketika itu ada di Maluku. Dengan bantuan itu Coen kembali lagi untuk menaklukkan Jayakarta. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 30 mei 1619.
Maka dengan demikian sejarah Jayakarta memasuki lembaran baru. Nama Jayakarta oleh Belanda dig anti dengan Batavia, berasal dari nama Batavieren. Sebenarnya Coen menghendaki nama Niew Hoorn. Namun pimpinan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie = Persekutuan Dagang Hindia Timur atau Kompeni) di negeri leluhurnya didak menyetujuinya.
Kamis, 10 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

Souvenir Jakarta (Fatahillah)


Siapa yang tidak kenal Museum Fatahillah, bangunan yang lekat dengan History kota Jakarta ini tidak pernah lengang dimakan usia. Daya pikatnya selalu menarik hati setiap orang yang melihatnya. Seperti kita tahu, bangunan yang dulu bernama Stadhuis ini dulunya adalah Balai Kota, pusat pemerintahan Belanda (VOC) saat berkuasa di Indonesia.
Selain memiliki koleksi yang tidak ternilai harganya, bangunan ini juga menyimpan masa lalu yang kelam. Seperti Taman Fatahillah yang dulunya adalah tempat pemancungan dan hukuman gantung para pemberontak pribumi yang memberontak kebijakan Belanda.
Museum Fatahillah juga mempunyai banyak penjara yang diperuntukkan bagi para tahanan dan pemberontak. Penjara-penjara tersebut terletak di bagian belakang Museum Fatahillah. Saking kejamnya Belanda, satu penjara menampung 50 tahanan dengan jeruji besi di kaki mereka. Bisa kita bayangkan, penjara yang sempit, lembab harus dipaksakan menampung 50 tahanan tanpa mereka mendapat makan minum, dan (kejamnya lagi) untuk buang air saja mereka lakukan di situ. Jadi, tak jarang jika banyak tahanan yang mati karena kelaparan dan terserang penyakit. Dan, sadisnya mayat mereka ditelantarkan begitu saja.
Penjara yang satu lagi terletak di bagian bawah gedung. Kita harus menunduk terlebih dulu untuk bisa masuk ke dalamnya. Penjara ini dinamakan Penjara Air. Disebut demikian karena jika hujan, air yang meluap dari atas masuk ke dalam penjara karena letak penjara yang berada di bawah.
Kini, Penjara-penjara tersebut, termasuk koleksi Museum seperti Lemari kaca besar, meja bundar besar yang terbuat dari kayu jati, pedang yang dulunya dipakai untuk pemancungan pemberontak dan koleksi lainnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Termasuk patung Dewa Hermes dan Meriam Si Jagur yang konon memiliki pasangan, namun keberadaannya belum diketahui hingga saat ini. Cerita berhembus, jika kedua Meriam bertemu maka akan terjadi kiamat. Beleive it or not?!
Banyak sekali misteri di dalam Fatahillah yang belum terpecahkan, atau memang sengaja dirahasiakan. Tapi, yang pasti Museum Fatahillah sebagai bangunan yang memiliki nilai history tinggi tentang bangsa kita dan kekejaman Belanda, patut dan layak kita lestarikan sebagai cagar budaya.
Kadang, ada sebuah misteri di balik rahasia yang belum dan harus dipecahkan, tapi memang ada hal yang tidak akan pernah terungkap, biarlah itu menjadi misteri bagi sejarah.

Kini JAKARTA PUNYA hadir dengan koleksi Kaos Museum Fatahillah. Tersedia 2 warna, Putih dan Coklat, dengan ukuran M, L, XL, XXL & XXXL (Rp.115.000. Lengkapi koleksi Kaos Jakartamu sekarang juga. Info 083 895 197 127. Bukan sebuah harga yang menjadi perbandingan, melainkan nilai History yang tersimpan di dalamnya.

Senin, 07 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

The Light Lotus of Dharma Bhakti Pagoda


Vihara terbesar di Jakarta dan memiliki nama lain Kim Tek Ji, terletak di Jl. Kemenangan, Jakarta Kota. Luas seluruh lingkungan sekitar 1.200 meter persegi. Menurut sejarahnya vihara ini berdiri sejak lebih kurang 400 tahunyang lalu. Memasuki vihara ini pada pintu gerbang besar tersusun gambar-gambar dan ukiran. Di dalam klenteng seluruhnya berjumlah lima belas kedudukan Hud, Sin, dan Sien. Di dekatnya ada ruangan untuk Hok Tek Tjin sin (Tuan tanah), dan di sebelah kirinya tempat kedudukan Tjay Sin Ya, di samping kanan Sin Go Ho Tjong Hun (5 macam). Di sebelah samping kanan tempat kedudukan Sien Sing ang Kong dan Sien Thay Suy Ya. Di sebe1ah kiri Sien Sing ang Kong tempat kedudukan Sien Hwa Kong Hwa Ma. Di sebelah kanan Siem Pek Houw Tjong Kun (Macan Putih).
Vihara ini masuk dalam keanggotaan M.A.B.I. (Majelis Agama Budha Indonesia). Beberapa orang yang pernah mengelola Vihara "Dharma Bhakti" adalah Bapak Yap Sutopo Wie Kie (Jaya Diguna budirnan), ang Je Kwi, Oey Tek Seng, Lie Tjin Thai dan pengurus tua lama : Ang Lee Tiok. Tujuan yayasan adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat golongan Buddhis, Taois, Konghucu dalam menunaikan peribadatannya, termasuk pelayanan sosial dalam pengobatan pada polikliniknya. Sejak tahun 1970-an bangunan klenteng diperbaiki terus-menerus dengan dana yang banyak diperoleh dari para anggota, donatur dan masyarakat pengunjung yang beribadah di tempat itu. Setiap hari para pengunjung yang bersembahyang rata-rata mencapai seratus orang.
Setiap tahun ada delapan kali acara yang teramat ramai dikunjungi orang sembahyang yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang, bertempat di Bio Ma Kwan Im, yaitu pada saat-saat : 1. Imlek tanggal 1 bulan 1 (tahun baru Imlek), 2. Imlek tanggal 8 bulan 1, Tian Kong Si (Sembahyang Tuhan Allah). 3. Imlek tgl. 15 bulan 1, Cap Go Me. 4. Imlek tgl. 19 bulan 2, hari Ulang Tahun Ma Kwan Im Pertama. 5. Imlek tgl. 19 bulan 6 hari Ulang Tahun Ma Kwan Im kedua. 6. Ma Kwan Im ketiga. 8. Imlek Tahun.
Dibangun pada sekitar tahun 1650, hal tersebut tercantum dalam Kronik Penduduk Tionghoa di Batavia. Pembangunannya dilakukan oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan dengan nama Guan Yin Ting. Pada tahun 1755 nama Jin De Yuan diberikan oleh Kapten Huang Shi Lao.
Masyarakat sekitar juga menyebutnya dengan nama Kim Tek I, sekarang diberi nama Vihara Dharma Bhakti. Bangunan ini pernah beberapa kali mengalami perbaikan. Pertama Tahun 1846, jalan masuk menuju Klenteng diperbaiki atas inisiatif Mayor Chen Yi Yu. Kemudian Tahun 1890 diperbaiki oleh Mayor Li Zi Feng. Secara keseluruhan bangunan Klenteng Jin De Yuan termasuk dalam satu kompleks dengan bangunan klenteng lain yaitu Klenteng Hui Ze Miao, Di Cang Wang Miao dan Xuan Tan Gong (Vihara Dharma Bhakti).
Seperti bangunan klenteng tradisional Cina pada umumnya, bentuknya menyerupai rumah tinggal orang China di Pecinan, namun perbedaannya tampak pada bentuk atap yang dibagi menjadi tiga bagian, dengan bagian ujungnya yang berbentuk seperti ekor wallet serta terdapat sepasang patung ukiran naga dan bola api di tengah pada atapnya yang melambangkan prinsip Yin dan Yang.
Seluruh bangunan di cat dalam warna merah seperti api dan darah yang melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan.
Pada bagian court yard terdapat semacam gazebo kecil untuk tempat membakar dupa dalam bentuk atap segi delapan, yakni lambang Pat-Kua, delapan arah mata angin, dengan ukiran patung naga pada setiap ujung-ujungnya. Pada ujung atap terdapat cungkup berbentuk bunga lotus.

Kamis, 03 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

The History of Jami Al-Mansyur Mosque


Salah satu masjid tua di Jakarta, dulu bernama Masjid Jami Kampung Sawah, terletak di Jl. Sawah Lio II/33, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Daerah ini rupanya dihuni orang dari Bima (Sumbawa), karena itu nama Jembatan Lima mungkin salah kaprah dengan Bima. Pada satu peta abad ke-19, kampung ini disebut Sawah Masjid. Didirikan pada abad 18, tepatnya tahun 1130 H (1717 M), ruang utama masjid al Mansur yang sekaligus bangunan tertua, bersegi empat (12 x 14.40 m).
Unsur yang mencolok adalah empat sokoguru yang kokoh dan tampak kekar di tengahnya. Bagian bawah tiang-tiang ini bersegi delapan dan diatasnya terdapat pelipit penyangga, pelipit genta serta rata. Batang utama (di bagian tengah) berbentuk bulat dan dihiasi pelipit juga. Bagian teratas berbentuk persegi empat dan dibatasi pelipit.
Pada ketinggian setengah diantara keempat sokoguru terdapat balok-balok kayu antara lain untuk menopang kedua tangga yang menuju ke loteng. Di atas balok-balok selebar 55 cm itu di sisi kanan dan kiri dipasang pagar setinggi 80 cm. Pola pagar ini berbentuk belah ketupat. Konstruksi ini dan bentuk sokoguru bergaya barat. Atap masjid ini tumpang tiga yang berbentuk limasan. Menara, yang terletak di ruang baru di depan masjid lama, berbentuk silinder setinggi dua belas meter. Pada bagian keempat dan kelima dari menara itu terdapat teras yang berpagar besi. Atap menara berbentuk kubah.
Masjid ini mempunyai peranan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda dan Jepang di bawah Pimpinan KH. Mohammad Mansyur. Tahun 1947/1948 masjid digrebeg dan ditembaki serdadu NICA, Moh. Mansyur digiring ke Hoof Bereau karena telah berani mengibarkan bendera merah putih di menara masjid. Setelah Moh. Mansyur meninggal tanggal 12 mei 1967, masjid diberi nama Masjid Jami al-Mansyur.
Rabu, 02 Maret 2011 | By: Jakarta Punya

The Red Blues of Toko Merah



Gedung tua sebagai saksi kejayaan Batavia lama di tepian Muara Ciliwung. Bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal von Imhoff (1705-1751). Bangunan Toko Merah terletak di Jl. Kali Besar No. 11, Jakarta Barat. Secara administratif berada di Kelurahan Roa Malaka, Kec. Tambora, Wilayah Kota Jakarta Barat. Letak bangunan pada masa kejayaan VOC sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia, berdekatan dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis). Dari segi bisnis, Toko Merah justru terletak di tepi barat Kali Besar (de Groote River), sebagai "central business district" nya Batavia. Pada saat itu Ciliwung merupakan urat nadi lalu lintas air yang ramai dilayari hingga ke pedalaman. Kawasan Kali Besar sendiri merupakan salah satu wilayah hunian elit di dalam Kota Batavia.

Sejarah Toko Merah: Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff (kemudian menjadi gubernur jenderal) sebagai rumah tinggal. Pada saat ia membangun Toko Merah jabatannya masih sebagai opperkopman, sehingga kadangkala orang meragukan bahwa Toko Merah dibangun van Imhoff. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama "Toko Merah" berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama.
Nama tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester. Warna merah hati juga nampak pada interior dari bangunan tersebut yang sebagian besar berwarna merah dengan ukiran-ukirannya yang juga berwama merah. Di samping itu dalam akte tanah No. 957, No. 958 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil tersebut milik NV Bouwmaatschapij "Toko Merah".
Bangunan Toko Merah terdiri dari 2 gedung dan sempat beberapa kali berpindah pemilik seperti kepada Jacob Mossel, anak Gubernur Jenderal Mossel yang bernama Phillippine Theodore Mossel; Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, Renier de Klerk, Nicolaas Hartingh, Baron van Hohendorf, dll.
Pada tahun 1743-1755 dijadikan Kampus dan Asrama Academie de Marine (akademi angkatan laut), kemudian berpindah tangan lagi. Pada tahun 1786-1808 bangunan ini digunakan untuk Heerenlogement atau hotel para pejabat. Tahun 1809-1813 seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare. Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai taka, sehingga populer dengan sebutan "Taka Merah". Berpindah lagi pada Oey Kim Tjiang (gedung utara), Oey Hok Tjiang (gedung selatan), Kultur Hong Hiu Kongsi (seluruh bangunan), digunakan sebagai kantor oleh Borneo Compagnie (1900). Di tahun 1901 bagian-bagian ruang samping rumah sebelah utara diambil untuk membentuk Compagnies kammer di Museum Pusat.
Kemudian sebagai kantor Behn Meiwe & Co (1917). Tahun 1920 dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maatschappij "Toko Merah" yang menelan biaya satu juta gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di sini hingga tahun 1925. Kemudian ditempati oleh sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij, dan WM Muller. & Co. Tahun 1934-1942 menjadi Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg salah satu perusahaan "The Big Five" milik Kolonial Belanda. Di masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India. Sesudah kemerdekaan menjadi Kantor Dagang Nigeo Eksport.
Kemudian di tahun 1946-1957 menjadi kantor N.V. Jacobson van den Berg lagi. Saat terjadi nasionalisasi terhadap semua perusahaan asing di Indonesia N.V Jacobson van den Berg diubah menjadi P.T. Yudha Bakti. Di tahun 1961 berubah menjadi P. N. Fajar Bhakti, berubah lagi menjadi P. N. / P. T. Satya Niaga di tahun 1964. Selanjutnya di tahun 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Toko Merah merupakan rumah mewah terbesar dari abad ke-18 di dalam Kota yang masih dalam keadaan terpelihara baik.

Arsitektur: Gedung Toko Merah dibangun di atas areal seluas 2.455 m2. Bangunan terdiri atas tiga gedung yang menyatu. Bangunan depan (tingkat dua) dan belakang (tingkat tiga), membujur dari utara ke selatan, adapun bangunan tengah merupakan penghubung bangunan utara dan selatan, melintang dari timur ke barat. Arsitektur bangunan mencerminkan perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis. Bangunan Toko Merah sebenarnya merupakan bangunan kembar, dua rumah di bawah satu atap. Hal itu terlihat dengan adanya dua buah pintu masuk ke dalam bangunan dan adanya parapat pemisah yang biasa dibuat untuk mencegah apabila terjadi kebakaran tidak menjalar ke gedung sebelahnya.
Bangunan depan dan belakang dihubungkan dengan bangunan satu lantai berplafon dua tingkat. Kedua bangunan ini berhubungan secara terbuka dan secara visual memberi kesan terbagi oleh adanya tujuh buah pilar tembok persegi panjang dan bukaan yang dibingkai architrave berskala tinggi, berukuran 3,5 m x 2,1 m. Bingkai pilar terbuat dari kayu berwarna merah tua dengan garis keemasan. Di lantai dua terdapat tembok tengah sebagai pemisah ruangan atas yang merupakan terusan dari tembok sebelah bawahnya.
Tembok itu berlanjut terus hingga mencapai bubungan atap, baik atap depan, tengah maupun belakang. Tembok pemisah itu juga berfungsi sebagai penyangga guna menopang dan mendukung beban atap yang tinggi dan berat. Tembok depan bangunan yang terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester dapat memberikan kesan unik bagi gedung ini.
Toko Merah memiliki dua buah pintu masuk berukuran besar dan tinggi. Pada bagian atas kedua pintu masuk bangunan terpasang fanlight atau jendela angin yang berada pada satu kusen dengan pintu. Kedua jendela angin kaca di atas pintu (bovenlichten) itupun berpola kotak-kotak dan masing-masing memiliki 30 buah kotak. Semua jendela masih menerapkan gaya abad ke-18 dan berskala monumental guna mengimbangi ruangan-ruangan besar di dalamnya. Kemudian untuk mencapai lantai bagian atas bangunan, terdapat enam buah tangga, kesemuanya berwarna merah hati, terbuat dari kayu terukir artistik. Dari depan bangunan ini seolah hanya memiliki sebuah atap, namun kenyataannya memiliki tiga buah atap. Bangunan depan dan belakang memiliki atap dengan bubungan yang memanjang dari utara ke selatan.
Sementara atap bangunan tengah, bubungan atapnya melintang dari timur ke barat, sekaligus sebagai atap penghubung bagi kedua atap bangunan depan dan belakang. Atap bangunan berbentuk atap pelana atau atap rumah kampung, terbentuk oleh susunan kerangka kuda-kuda segitiga yang dihubungkan oleh kerangka-kerangka yang membentang di atasnya tetap orientasi susunan kerangka atap ini menyamping dari arah hadap bangunannya. Susunan kerangka tersebut membentuk dua bidang miring yang berbentuk empat persegi panjang yang menjadi tempat dimana penutup atap.
Bangunan Toko Merah memiliki cukup banyak ruangan, baik di lantai dasar, lantai 2 maupun lantai 3. Selain ruang besar (aula) di lantai dasar dan lantai 2, ruang-ruang lain berfungsi sebagai kamar. Di lantai dasar terdapat 16 buah kamar, masing-masing 8 buah di rumah sebelah utara dan 8 buah di rumah sebelah selatan. Di lantai 2 kamarnya berjumlah 4 buah dan terdapat di bangunan bagian belakang. Sementara di tingkat 3 terdapat 5 buah kamar. Bangunan tambahan di areal belakang memiliki sejumlah kamar.
Gedung Toko Merah yang tak di pakai untuk gedung PT. Dharma Niaga terletak di Jl. Kali Besar Barat No.107, Jakarta Barat. Bangunan yang pernah digunakan sebagai rumah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baron van Irnhoff tersebut memiliki arsitektur bergaya Barok abad ke-18, terlihat pada elemen cornice dan jendela tinggi yang dominan. Bangunan ini juga merupakan perpaduan gaya klasik Eropa dan Cina, terutama pada ornamen dalam bangunan.
Unsur Cina berupa warna merah hati ayam cukup dominan pada bangunan ini, baik pada warna tembok depan maupun pada interior dari unsur kayu di dalamnya. Di samping itu terdapat unsur tradisional yang juga terdapat pada bangunan, yang terlihat pada hiasan motif kisi-kisi pipih pada balustrade (jeruji pengaman pada samping tangga), terdapat pada tangga di rumah bagian utara lantai 3.
Hiasan semacam itu banyak ditemukan pada balustrade rumah-rumah Melayu. Apabila sekarang orang mengenalnya dengan sebutan Toko Merah adalah karena elemen luar dan dalam bangunan didominasi warna merah. Salah satu keunikan lainnya adalah tangga dengan gaya Baroque yang merupakan satus-atunya di Jakarta. Bangunan merupakan penggabungan dari dua bangunan ini menyimpan sejarah yang cukup panjang. Sebelum PD II, bangunan yang terlihat mencolok di antara bangunan di sekitarnya, karena dinding luarnya yang berwarna merah Bangunan ini menerima